Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan dalam Kitab Ma`alim fi thariq Thalab Al-Ilmi yang di terjemahkan nuralim dan beni sarbeni dia menasehatkan kepada penuntut ilmu agar selalu memperhatikan adab-adab kesopanan sebagai berikut:
Pertama, ikhlas karna Allah dalam Menuntut Ilmu.
Kedua, bacalah buku tentang Ilmu yang dipelajari dan Etika Menuntut Ilmu.
Ketiga, utamakan yang paling penting dalam menuntut ilmu terutama untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Keempat, Hindari sikap sok tahu.
Kelima, Memuji Allah ketika menyebutkan Nama-Nya.
Keenam, mengucap selawat dan salam ketika menyebut nama Nabi.
Ketujuh, Mendoakan keridhaan ketika menyebut nama sahabat nabi.
Kedelapan, mendoakan kerahmatan ketika menyebut nama ulama.
Kesembilan, cermat dan teliti dalam mengutip referensi
Kesepuluh, tidak menisbah hadis pada selain Shahihaian x
Kesebelas, teliti dan cermat dalam mengutip nasihat. x
Kedua Belas, Menghubungkan ungkapan kepada pemiliknya. x
Ketigabelas, jangan anggap kecil pelajaran sedikitpun.
Ke empatbelas, jangan menyembunyikan ilmu.
Ke limabelas, hati-hati berdalil dengan hadis lemah dan palsu.x
Ke enambelas, jangan mendhaifkan suatu hadis kecuali setelah meneliti dan bertanya. x
Ke tujuhbelas, jangan mengabaikan pertanyaan orang.
Ke delapanbelas, gunakan buku tulis untuk mencatat pelajaran dan pertanyaan.
Ke sembilanbelas, berusaha membaca pada setiap momentum.
Ke duapuluh, waspadai kesibukan dengan hal-hal mubah.
Ke Duapuluhsatu, Jangan sibukkan diri dengan sesuatu yang kurang utama.
Ke duapuluhdua, kunjungi perpustakaan dan bacalah semampunya.
Ke Duapuluhtiga, menengok keleksi pustaka pribadi.
Ke duapuluhempat, jangan sama ratakan istilah keilmuan yang mirip.
Ke duapuluhlima, bacalah istilah para penulis ,metode, penulisan dan resensi buku. Ke duapuluhenam, jangan tergesa-gesa memahami perkataan nasihat.
Ke duapuluhtujuh, perbanyakkanlah membaca buku fatwa.
Ke duapuluhdelapan, jangan cepat menampik sesuatu secara umum.
Ke duapuluhsembilan, jika meriwayatkan hadis secara makna, maka jelaskan.
Ke tigapuluh, jangan gunakan ungkapan yang memuji diri sendiri.
Ke tigapuluhsatu, terima kritik dan nasehat dengan hati lapang.
Ke tigapuluhdua, jangan pedulikan sedikitnya orang yang menperhatikan pelajaran. Ke tigapuluhtiga, jangan sia-sia kan waktu untuk menbahas perkara yang tak bermanfaat.
Ke tigapuluhempat, jangan menyibukkan diri dengan pembahasan yang keluar dalam konteks.
Ke tigapuluhlima , tidak berpindah-pindah buku ketika membaca.
Ke tigapuluhenam, jangan berlebihan dalam memilih kata-kata.
Ke tigapuluhtujuh, waspadai bicara tanpa ilmu.
Ke tigapuluhdelapan, jangan terpengaruh dengan hinaan yang bersifat pribadi.
Ke tigapuluhsembilan, waspadai rasa bosan dalam menuntut ilmu
Selasa, 24 November 2009
Latihan
Rukun Islam berjumlah
Akal manusia mempunyai 10 bagian
Allah dengan baik karena
Anak murid yang sering bolos, daating ke sekolah selalu terlambat, menurut kalian mendapat nilai pelajaran budi pekerti 8
Apa akibatnya bila kita mempersekutukan Allah (Syirik)
Apa dampak negatif apabila kita tidak menjaga kebersihan diri
Apa hukum Salat 5 kali sehari semalam bagi seorang muslim adalah
Apabila kita memiliki harta atas suatu usaha , wajib dizakatkan
Apabila seorang hamba minum khamar (minuman yang memabukan) sak e. terkenal
Apabila seseorang melakukan dosa besar
Apakah budi pekerti itu
Apakah tanggungjawab itu
beliau urutan ke
berasal apa
Berikan 3 contoh anak yang berbakti kepada orang tua
carilah akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Berarti dalam mencari harta
Ciri ciri anak saleh
Ciri murid yang bertanggungjawab
Dalam berbakti kepada orang tua, nabi Muhammad memerintah lebih mengutamakan panggilan
Dalam mengucapkan dua kalimat syahadat adalah kesaksian atau pengakuan kepada
Dengan bertingkah laku bohong maka orang lain akan apa
Di bawah ini termasuk sifat yang dibenci Allah
Do’a untuk orang tua
Firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 90 berisikan tentang apa
Harta yang disadakah
Harta yang kita miliki selalu dijaga agar tidak hilang, tapi kalau harta itu disadakahkan
Jumlah ayat pada surat Al Ikhlas ada berapa
Jumlah rakaat salat lima waktu
Kebersihan merupakan sebagian dari pada apa
kehilangan
keturunan yang baik, karena sifat sombong merupakan sifat
Manusia jangan sombong walaupun memiliki harta yang banyak, wajah yang bagus,
Memahami Al Qur’an yang pertama kali
Menuntut ilmu bagi seorang muslim dan muslimah
Nabi Muhammad adalah nama-nama nabi yang wajib diketahui oleh orang muslim,
Orang bisa saja masuk neraka bukan karena tidak mengerjakan salat, dapat juga
Orang yang mempunyai sifat dengki dan hasad tidak akan memahami hukum-hukum
Pada bulan hari raya Idul Qurban, umat Islam dianjurkan berkurban
Pada saat ini perkembangan mode sangat pesat khususnya busana wanita,
pakaian yang terbuka auratnya tapi dipakai oleh kaum muslimah berarti ia telah
Pembacaan syahadat merupakan kesaksian seorang muslim atas keberadaan apa
Pemuda merupakan harapan bangsa, di bawah ini termasuk sifat pemuda yang baik
Perbuatan Jujur menurut agama Islam
Rukun Iman berjumlah
Rukun Iman yang ke lima
Rukun Islam yang ke lima
Rukun salat jumlahnya ada berapa
Rukun wudhu ada
Salah satu bahaya dengki dan hasad
Salah satu bahaya dengki dan hasad
Salat bila ditinggalkan bagi seorang yang telah aqil baligh akan mendapat
Salat terbagi menjadi dua
Sebelum hari Raya Idul Qurban disunahkan puasa pada tanggal berapa
Sedangkan bagian akal yang tersembunyi
Sepuluh kerugian orang yang minum khamar
Sesama teman di sekolah berbuat
Setiap anak yang telah akil baligh berkewajiban
Setiap hamba yang melakukan kebaikan akan diberi pahala sedangkan dosa apabila hamba melakukan
Setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas Allah akan memberikan pahala, apabila ada sampah di lantai kelas sikap yang baik adalah
Setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, Allah akan memberikan pahala, apabila ada sampah di lantai kelas, sikap yang baik
Setiap salat kita selalu membaca surat Al Fatiha sebagai salah satu rukun salat, dalam
Sikap terhadap guru sebagai pelajar
surat Al Fatiha terdapat ayat yang artinya “kepadaMu saja kami menyembah dan kepadamu saja kami mohon pertologan
Dibawah ini termasuk akhlak yang tidak baik
Di bawah ini termasuk nama-nama surat dalam Al Qur’an
Di bawah ini termasuk bakti anak kepada orang tua
Dibawah ini termasuk orang yang diberi kemulian oleh Allah karena salat fardu,
Salat merupakan tiang agama, maka barang siapa yang meninggalkan salat berarti ia
merobohkan agama, salat diwajibkan bagi orang yang telah
Dibawah ini termasuk akhlak yang tidak baik, kecuali a. sombong b. tak peduli lingkungan c. bertutur kata lemah lembut d. marah-marah e. malas salat
Apabila hendak masuk ke masjid, adab yang baik
Kata berikut ini merupakan dosa besar
Seorang murid yang tidak melaksanakan tugas yang diberikan guru
Apabila anda mendapat musibah, maka yang terbaik
Al Qur’an artinya
Ayat Al Qur’an yang artinya “Berilah kami jalan yang lurus “ terdapat pada surat
Al Qur’an merupakan petunjuk bagi orang
Nabi bersabda” jauhilah dengki karena dengki itu menghapuskan
Surat Al Fatihah ayat terakhir berisikan
Syafaat di akhirat yang utama dan pertama berasal dari
Tanggung jawab sebagai seorang teman
Tuliskan 3 akibat minum minuman keras
Tuliskan 3 nasehat Lukman kepada anaknya
Tuliskan 3 sifat muttaqin (orang taqwa)
Tuliskan 3 ucapan bumi terhadap manusia
Tuliskan 4 bahaya Dengki atau Hasad
Tuliskan 5 rukun salat dari 13 rukun salat
Tuliskan 5 sikap orang mukmin terhadap mukmin lainnya
Tuliskan lima obat hati
Tuliskan salah satu kelebihan manusia dibanding dengan makhluk lain
Tuliskan terjamahan surat Al Ashr
Ucapan sahabat bahwa carilah duniamu seakan-akan engkau hidup seribu tahun dan
Akal manusia mempunyai 10 bagian
Allah dengan baik karena
Anak murid yang sering bolos, daating ke sekolah selalu terlambat, menurut kalian mendapat nilai pelajaran budi pekerti 8
Apa akibatnya bila kita mempersekutukan Allah (Syirik)
Apa dampak negatif apabila kita tidak menjaga kebersihan diri
Apa hukum Salat 5 kali sehari semalam bagi seorang muslim adalah
Apabila kita memiliki harta atas suatu usaha , wajib dizakatkan
Apabila seorang hamba minum khamar (minuman yang memabukan) sak e. terkenal
Apabila seseorang melakukan dosa besar
Apakah budi pekerti itu
Apakah tanggungjawab itu
beliau urutan ke
berasal apa
Berikan 3 contoh anak yang berbakti kepada orang tua
carilah akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Berarti dalam mencari harta
Ciri ciri anak saleh
Ciri murid yang bertanggungjawab
Dalam berbakti kepada orang tua, nabi Muhammad memerintah lebih mengutamakan panggilan
Dalam mengucapkan dua kalimat syahadat adalah kesaksian atau pengakuan kepada
Dengan bertingkah laku bohong maka orang lain akan apa
Di bawah ini termasuk sifat yang dibenci Allah
Do’a untuk orang tua
Firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 90 berisikan tentang apa
Harta yang disadakah
Harta yang kita miliki selalu dijaga agar tidak hilang, tapi kalau harta itu disadakahkan
Jumlah ayat pada surat Al Ikhlas ada berapa
Jumlah rakaat salat lima waktu
Kebersihan merupakan sebagian dari pada apa
kehilangan
keturunan yang baik, karena sifat sombong merupakan sifat
Manusia jangan sombong walaupun memiliki harta yang banyak, wajah yang bagus,
Memahami Al Qur’an yang pertama kali
Menuntut ilmu bagi seorang muslim dan muslimah
Nabi Muhammad adalah nama-nama nabi yang wajib diketahui oleh orang muslim,
Orang bisa saja masuk neraka bukan karena tidak mengerjakan salat, dapat juga
Orang yang mempunyai sifat dengki dan hasad tidak akan memahami hukum-hukum
Pada bulan hari raya Idul Qurban, umat Islam dianjurkan berkurban
Pada saat ini perkembangan mode sangat pesat khususnya busana wanita,
pakaian yang terbuka auratnya tapi dipakai oleh kaum muslimah berarti ia telah
Pembacaan syahadat merupakan kesaksian seorang muslim atas keberadaan apa
Pemuda merupakan harapan bangsa, di bawah ini termasuk sifat pemuda yang baik
Perbuatan Jujur menurut agama Islam
Rukun Iman berjumlah
Rukun Iman yang ke lima
Rukun Islam yang ke lima
Rukun salat jumlahnya ada berapa
Rukun wudhu ada
Salah satu bahaya dengki dan hasad
Salah satu bahaya dengki dan hasad
Salat bila ditinggalkan bagi seorang yang telah aqil baligh akan mendapat
Salat terbagi menjadi dua
Sebelum hari Raya Idul Qurban disunahkan puasa pada tanggal berapa
Sedangkan bagian akal yang tersembunyi
Sepuluh kerugian orang yang minum khamar
Sesama teman di sekolah berbuat
Setiap anak yang telah akil baligh berkewajiban
Setiap hamba yang melakukan kebaikan akan diberi pahala sedangkan dosa apabila hamba melakukan
Setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas Allah akan memberikan pahala, apabila ada sampah di lantai kelas sikap yang baik adalah
Setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, Allah akan memberikan pahala, apabila ada sampah di lantai kelas, sikap yang baik
Setiap salat kita selalu membaca surat Al Fatiha sebagai salah satu rukun salat, dalam
Sikap terhadap guru sebagai pelajar
surat Al Fatiha terdapat ayat yang artinya “kepadaMu saja kami menyembah dan kepadamu saja kami mohon pertologan
Dibawah ini termasuk akhlak yang tidak baik
Di bawah ini termasuk nama-nama surat dalam Al Qur’an
Di bawah ini termasuk bakti anak kepada orang tua
Dibawah ini termasuk orang yang diberi kemulian oleh Allah karena salat fardu,
Salat merupakan tiang agama, maka barang siapa yang meninggalkan salat berarti ia
merobohkan agama, salat diwajibkan bagi orang yang telah
Dibawah ini termasuk akhlak yang tidak baik, kecuali a. sombong b. tak peduli lingkungan c. bertutur kata lemah lembut d. marah-marah e. malas salat
Apabila hendak masuk ke masjid, adab yang baik
Kata berikut ini merupakan dosa besar
Seorang murid yang tidak melaksanakan tugas yang diberikan guru
Apabila anda mendapat musibah, maka yang terbaik
Al Qur’an artinya
Ayat Al Qur’an yang artinya “Berilah kami jalan yang lurus “ terdapat pada surat
Al Qur’an merupakan petunjuk bagi orang
Nabi bersabda” jauhilah dengki karena dengki itu menghapuskan
Surat Al Fatihah ayat terakhir berisikan
Syafaat di akhirat yang utama dan pertama berasal dari
Tanggung jawab sebagai seorang teman
Tuliskan 3 akibat minum minuman keras
Tuliskan 3 nasehat Lukman kepada anaknya
Tuliskan 3 sifat muttaqin (orang taqwa)
Tuliskan 3 ucapan bumi terhadap manusia
Tuliskan 4 bahaya Dengki atau Hasad
Tuliskan 5 rukun salat dari 13 rukun salat
Tuliskan 5 sikap orang mukmin terhadap mukmin lainnya
Tuliskan lima obat hati
Tuliskan salah satu kelebihan manusia dibanding dengan makhluk lain
Tuliskan terjamahan surat Al Ashr
Ucapan sahabat bahwa carilah duniamu seakan-akan engkau hidup seribu tahun dan
Senin, 23 November 2009
Ujian silang bagus atau .....
MA Kabupaten Demak Tolak Pengawasan Silang
Laporan Wartawan Kompas Winarto Herusansono
SEMARANG, KOMPAS - Untuk menjaga obyektifitas guru mengawasi siswa mengerjakan materi ujian nasional, sistem silang guru pengawas dilakukan antarSMA dan Madrasah Aliyah (MA). Namun khusus di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, seluruh MA menolak sistem silang, memilih UN mandiri yang pengawasnya adalah guru di lingkungan MA.
Pemilihan MA melaksanakan UN mandiri itu, Rabu (18/4) ditemukan oleh Komisi E DPRD Jateng yang meninjau penyelenggaraan UN di sejumlah MA di Demak bersama Panitia Penyelenggaraan UN 2006/2007 Jawa Tengah.
"Menolak penerapan sistem silang untuk guru pengawas itu termasuk penyimpangan. Meski menyimpang namun panitia tingkat Jateng tidak bisa menindak. Hal itu dikembalikan pada pengelola MA," kata anggota DPRD Jateng Thontowi Jauhari.
Dia mengemukakan, MA melakukan UN mandiri sejak hari pertama 17 April 2007. Padahal, sistem silang menjamin mutu kelulusan siswa. Di Demak diperkirakan jumlah MA lebih banyak 60 persen dibanding SMA dan SMK sederajat lainnya. Pihaknya sudah melaporkan soal penyimpangan ini ke Majelis Pendidikan Dasar Departemen Agama Demak.
Menurut majelis, keputusan MA mengadakan UN mandiri sudah seijin dan sepengetahuan pejabat di Dinas P dan K Jateng.
sumber http://202.146.5.33/ver1/Dikbud/0704/18/202327.htm
Laporan Wartawan Kompas Winarto Herusansono
SEMARANG, KOMPAS - Untuk menjaga obyektifitas guru mengawasi siswa mengerjakan materi ujian nasional, sistem silang guru pengawas dilakukan antarSMA dan Madrasah Aliyah (MA). Namun khusus di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, seluruh MA menolak sistem silang, memilih UN mandiri yang pengawasnya adalah guru di lingkungan MA.
Pemilihan MA melaksanakan UN mandiri itu, Rabu (18/4) ditemukan oleh Komisi E DPRD Jateng yang meninjau penyelenggaraan UN di sejumlah MA di Demak bersama Panitia Penyelenggaraan UN 2006/2007 Jawa Tengah.
"Menolak penerapan sistem silang untuk guru pengawas itu termasuk penyimpangan. Meski menyimpang namun panitia tingkat Jateng tidak bisa menindak. Hal itu dikembalikan pada pengelola MA," kata anggota DPRD Jateng Thontowi Jauhari.
Dia mengemukakan, MA melakukan UN mandiri sejak hari pertama 17 April 2007. Padahal, sistem silang menjamin mutu kelulusan siswa. Di Demak diperkirakan jumlah MA lebih banyak 60 persen dibanding SMA dan SMK sederajat lainnya. Pihaknya sudah melaporkan soal penyimpangan ini ke Majelis Pendidikan Dasar Departemen Agama Demak.
Menurut majelis, keputusan MA mengadakan UN mandiri sudah seijin dan sepengetahuan pejabat di Dinas P dan K Jateng.
sumber http://202.146.5.33/ver1/Dikbud/0704/18/202327.htm
Sabtu, 21 November 2009
Murid 1
Alkisah, Nabi Musa sedang memberikan pembekalan-pembekalan pada para muridnya. Tiba-tiba salah satu muridnya bertanya, siapakah MANUSIA paling DALAM ILMUNYA. Tentu saja dengan serta merta Nabi Musa menjawab “AKU”.
Jawaban beliau ternyata tidak berkenan di hadirat Alloh SWT. Nabi Musa pun ditegur atas jawaban tersebut karena menandakan kesombongan dan ketidaksadaran kerendahan dirinya dihadapan-Nya.
Oleh Alloh SWT kemudian beliau diperintahkan untuk bertemu dengan orang yang menurut-Nya memiliki kedalaman ilmu yang lebih dibandingkan Nabi Musa, yaitu Nabi Khidr. Maka atas perintah tersebut Nabi Musa berangkat menemuinya.
Setelah bertemu, Nabi Khidr setuju untuk menerima Nabi Musa belajar padanya. Tapi sebagai ujian sebelum secara resmi akan mengajari beliau, Nabi Khidr memberikan syarat selama masa perjalanan ujian tersebut Nabi Musa dilarang bertanya sampai tiga kali atas apa yang kemungkinan akan dilakukan oleh Nabi Khidr.
Nabi Musa pun setuju atas syarat dan kondisi tersebut. Maka mulailah perjalanan mereka untuk menguji layak atau tidakkah Nabi Khidr mengangkat Nabi Musa sebagai murid.
Seperti kita ketahui, ternyata Nabi Musa gagal menjadi murid Nabi Khidr karena tidak dapat menjalani syarat tersebut.
Banyak hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah yang fenomenal ini. Fenomenal karena hanya ini satu-satunya kisah seorang nabi masih harus disuruh belajar lagi kepada nabi yang lain oleh Alloh SWT.
Banyak hikmah yang bisa kita renungkan dari kisah ini, diantaranya adalah:
1. Kesabaran
Pada saat Nabi Khidr memberikan syarat kepada Nabi Musa untuk tidak bertanya lebih dari tiga kali atas apa yang beliau lakukan hingga nanti diberi penjelasan adalah pelajaran penting tentang nilai kesabaran dalam belajar.
Proses belajar yang baik berawal dari kesadaran bahwa sang murid menyadari ada sesuatu yang tidak dia ketahui dan harus dipelajari. Berangkat dari kesadaran tersebut sang murid harus mulai melakukan pengkajian terhadap apa yang ingin dia pelajari.
Kegiatan ini dapat diibaratkan seperti menyiramkan air pada tanaman yang sedang kita tanam dan tumbuh-kembangkan. Jika tergesa-gesa dan terlalu banyak menyiram, air akan menggenang hingga akan membusukkan akarnya. Tentunya hal tersebut akan menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.
2. Kerendahatian
Alloh SWT pada saat memerintahkan Nabi Musa untuk belajar lebih mendalam memiliki tujuan untuk mengajarkan sikap rendah hati (tawadhu) kepada beliau.
Sikap rendah hati akan memberikan dampak kesadaran pada kita untuk terus-menerus mengembangkan ilmu, wawasan dan kearifan kita. Kita akan terus-menerus belajar dan mengembangkan etos pembelajar yang efektif.
Etos pembelajar yang efektif ini akan memberikan dukungan pada diri kita untuk mempelajari apa yang harus dipelajari. Memaknai apa yang dipahami dan memperdalam kebijaksanaan diri secara arif atas apa yang ada di sekitar kita.
3. Kepercayaan dan Ketaatan
Pada saat Nabi Khidr memberikan syarat untuk tidak bertanya lebih dari tiga kali kepada Nabi Musa, beliau berusaha menanamkan rasa percaya dan ketaatan kepadanya sebagai sang guru.
Disini dapat dilihat bahwa untuk mencapai proses belajar dan mengajar yang seimbang, sang guru dan sang murid harus mengembangkan rasa percaya dan taat yang seimbang.
Hal ini dapat memberikan hikmah kepada kita bahwa pada saat mengajarkan sesuatu maka harus dapat dipercaya kualitas keilmuannya. Kita sering tidak menyadari betapa besar dampak yang bisa kita timbulkan dari apa yang diajarkan kepada orang lain, baik itu positif maupun negatif.
Sang murid yang sedang belajar pun harus memiliki kepercayaan kepada apa yang disampaikan oleh sang guru. Kepercayaan itu tentunya harus dibarengi dengan ketaatan atas aturan-aturan yang ditetapkannya.
Tentunya sang guru dengan kedalaman ilmu, wawasan dan kearifannya memiliki pandangan-pandangan yang belum terlihat oleh keterbatasan pemahaman yang kita miliki sehingga menetapkan aturan-aturan yang secara mendasar sebenarnya memberikan tuntunan kepada sang murid.
4. Kearifan
Pada saat Alloh SWT memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada Nabi Khidr, Dia memberikan beberapa petunjuk tentang tempat dan waktu untuk bertemu serta ciri-ciri calon gurunya tersebut.
Disini kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam memilih guru dan mempelajari sesuatu harus dilakukan dengan kearifan. Kearifan ini akan menolong kita dari kemungkinan salah memilih guru atau mempelajari sesuatu yang sia-sia.
Karena itu dalam proses memilih sang guru dan ilmu yang ingin dipelajari harus melakukan telaahan yang mendalam atas kualitas dan nama baiknya.
5. Kejujuran dan Tanggung Jawab
Nabi Musa secara jujur mengakui kedangkalan ilmunya dibandingkan dengan Nabi Khidr pada saat diberi penjelasan atas tiga hal kontroversial (menurut Nabi Musa) yang dilakukan oleh calon gurunya itu.
Di sisi lain beliau pun bertanggung jawab atas akibat dari dilanggarnya syarat untuk menjadi murid Nabi Khidr yang berakibat ditolaknya beliau menjadi murid.
Dari sisi ini kita dapat mengambil pelajaran atas kejujuran dan tanggung jawab dalam proses belajar.
Secara jujur kita mengakui telah melakukan kesalahan hingga kemudian melakukan penerimaan serta perbaikan atasnya.
“Sesungguhnya setiap manusia adalah dalam keadaan yang merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh dan saling mengingatkan dalam kebenaran serta kesabaran”
Jawaban beliau ternyata tidak berkenan di hadirat Alloh SWT. Nabi Musa pun ditegur atas jawaban tersebut karena menandakan kesombongan dan ketidaksadaran kerendahan dirinya dihadapan-Nya.
Oleh Alloh SWT kemudian beliau diperintahkan untuk bertemu dengan orang yang menurut-Nya memiliki kedalaman ilmu yang lebih dibandingkan Nabi Musa, yaitu Nabi Khidr. Maka atas perintah tersebut Nabi Musa berangkat menemuinya.
Setelah bertemu, Nabi Khidr setuju untuk menerima Nabi Musa belajar padanya. Tapi sebagai ujian sebelum secara resmi akan mengajari beliau, Nabi Khidr memberikan syarat selama masa perjalanan ujian tersebut Nabi Musa dilarang bertanya sampai tiga kali atas apa yang kemungkinan akan dilakukan oleh Nabi Khidr.
Nabi Musa pun setuju atas syarat dan kondisi tersebut. Maka mulailah perjalanan mereka untuk menguji layak atau tidakkah Nabi Khidr mengangkat Nabi Musa sebagai murid.
Seperti kita ketahui, ternyata Nabi Musa gagal menjadi murid Nabi Khidr karena tidak dapat menjalani syarat tersebut.
Banyak hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah yang fenomenal ini. Fenomenal karena hanya ini satu-satunya kisah seorang nabi masih harus disuruh belajar lagi kepada nabi yang lain oleh Alloh SWT.
Banyak hikmah yang bisa kita renungkan dari kisah ini, diantaranya adalah:
1. Kesabaran
Pada saat Nabi Khidr memberikan syarat kepada Nabi Musa untuk tidak bertanya lebih dari tiga kali atas apa yang beliau lakukan hingga nanti diberi penjelasan adalah pelajaran penting tentang nilai kesabaran dalam belajar.
Proses belajar yang baik berawal dari kesadaran bahwa sang murid menyadari ada sesuatu yang tidak dia ketahui dan harus dipelajari. Berangkat dari kesadaran tersebut sang murid harus mulai melakukan pengkajian terhadap apa yang ingin dia pelajari.
Kegiatan ini dapat diibaratkan seperti menyiramkan air pada tanaman yang sedang kita tanam dan tumbuh-kembangkan. Jika tergesa-gesa dan terlalu banyak menyiram, air akan menggenang hingga akan membusukkan akarnya. Tentunya hal tersebut akan menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.
2. Kerendahatian
Alloh SWT pada saat memerintahkan Nabi Musa untuk belajar lebih mendalam memiliki tujuan untuk mengajarkan sikap rendah hati (tawadhu) kepada beliau.
Sikap rendah hati akan memberikan dampak kesadaran pada kita untuk terus-menerus mengembangkan ilmu, wawasan dan kearifan kita. Kita akan terus-menerus belajar dan mengembangkan etos pembelajar yang efektif.
Etos pembelajar yang efektif ini akan memberikan dukungan pada diri kita untuk mempelajari apa yang harus dipelajari. Memaknai apa yang dipahami dan memperdalam kebijaksanaan diri secara arif atas apa yang ada di sekitar kita.
3. Kepercayaan dan Ketaatan
Pada saat Nabi Khidr memberikan syarat untuk tidak bertanya lebih dari tiga kali kepada Nabi Musa, beliau berusaha menanamkan rasa percaya dan ketaatan kepadanya sebagai sang guru.
Disini dapat dilihat bahwa untuk mencapai proses belajar dan mengajar yang seimbang, sang guru dan sang murid harus mengembangkan rasa percaya dan taat yang seimbang.
Hal ini dapat memberikan hikmah kepada kita bahwa pada saat mengajarkan sesuatu maka harus dapat dipercaya kualitas keilmuannya. Kita sering tidak menyadari betapa besar dampak yang bisa kita timbulkan dari apa yang diajarkan kepada orang lain, baik itu positif maupun negatif.
Sang murid yang sedang belajar pun harus memiliki kepercayaan kepada apa yang disampaikan oleh sang guru. Kepercayaan itu tentunya harus dibarengi dengan ketaatan atas aturan-aturan yang ditetapkannya.
Tentunya sang guru dengan kedalaman ilmu, wawasan dan kearifannya memiliki pandangan-pandangan yang belum terlihat oleh keterbatasan pemahaman yang kita miliki sehingga menetapkan aturan-aturan yang secara mendasar sebenarnya memberikan tuntunan kepada sang murid.
4. Kearifan
Pada saat Alloh SWT memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada Nabi Khidr, Dia memberikan beberapa petunjuk tentang tempat dan waktu untuk bertemu serta ciri-ciri calon gurunya tersebut.
Disini kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam memilih guru dan mempelajari sesuatu harus dilakukan dengan kearifan. Kearifan ini akan menolong kita dari kemungkinan salah memilih guru atau mempelajari sesuatu yang sia-sia.
Karena itu dalam proses memilih sang guru dan ilmu yang ingin dipelajari harus melakukan telaahan yang mendalam atas kualitas dan nama baiknya.
5. Kejujuran dan Tanggung Jawab
Nabi Musa secara jujur mengakui kedangkalan ilmunya dibandingkan dengan Nabi Khidr pada saat diberi penjelasan atas tiga hal kontroversial (menurut Nabi Musa) yang dilakukan oleh calon gurunya itu.
Di sisi lain beliau pun bertanggung jawab atas akibat dari dilanggarnya syarat untuk menjadi murid Nabi Khidr yang berakibat ditolaknya beliau menjadi murid.
Dari sisi ini kita dapat mengambil pelajaran atas kejujuran dan tanggung jawab dalam proses belajar.
Secara jujur kita mengakui telah melakukan kesalahan hingga kemudian melakukan penerimaan serta perbaikan atasnya.
“Sesungguhnya setiap manusia adalah dalam keadaan yang merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh dan saling mengingatkan dalam kebenaran serta kesabaran”
Berpakaian 1
BERPAKAIAN
ADAB DAN TATA CARA BERPAKAIAN
Mendahulukan yang kanan dalam berpakaian
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila memakai gamis dia mendahulukan yang kanan.” (HR. Tirmidzi)
Meninggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’
Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang menanggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’ kepada Allah padahal ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk dipakainya.” (HR. Tirmidzi)
Panjang gamis dan kain
Asma’ binti Yasid Al-Anshariyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “adalah lengan baju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya sampai pergelangan tangan. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Allah tidak akan melihat dengan rahmat pada hari kiamat kepada siapa saja yang memakai (menurunkan) kainnya kerena sombong.” (HR. Bukhari Muslim)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “yang di bawah mata kaki dari kain maka itu bagian api neraka.” (HR. Bukhari)
Pakaian yang disukai
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha ia berkata:”pakaian yang amat disukai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah gamis.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Doa mengenakan pakaian
Disunnahkan membaca bismillah ketika mengenakan pakaian, demikian pula sesuatu apapun yang baik.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: Apabila mengenakan pakaian baru Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut namanya, seperti gamis, sorban, atau selendang kemudian membaca doa:
(Ya Allah kepunyaan-Mu segala puji. Engkau pakaikan ini kepadaku, aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya dan kebaikan yang dijadikan karenanya, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang terjadi karenanya.) (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nas’i. Tirmidzi mengatakannya hadits hasan).
(Maraji’: Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, Nailul Author)
ADAB DAN TATA CARA BERPAKAIAN
Mendahulukan yang kanan dalam berpakaian
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila memakai gamis dia mendahulukan yang kanan.” (HR. Tirmidzi)
Meninggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’
Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang menanggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’ kepada Allah padahal ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk dipakainya.” (HR. Tirmidzi)
Panjang gamis dan kain
Asma’ binti Yasid Al-Anshariyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “adalah lengan baju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya sampai pergelangan tangan. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Allah tidak akan melihat dengan rahmat pada hari kiamat kepada siapa saja yang memakai (menurunkan) kainnya kerena sombong.” (HR. Bukhari Muslim)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “yang di bawah mata kaki dari kain maka itu bagian api neraka.” (HR. Bukhari)
Pakaian yang disukai
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha ia berkata:”pakaian yang amat disukai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah gamis.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Doa mengenakan pakaian
Disunnahkan membaca bismillah ketika mengenakan pakaian, demikian pula sesuatu apapun yang baik.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: Apabila mengenakan pakaian baru Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut namanya, seperti gamis, sorban, atau selendang kemudian membaca doa:
(Ya Allah kepunyaan-Mu segala puji. Engkau pakaikan ini kepadaku, aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya dan kebaikan yang dijadikan karenanya, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang terjadi karenanya.) (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nas’i. Tirmidzi mengatakannya hadits hasan).
(Maraji’: Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, Nailul Author)
Budi Pekerti 1
Budi pekerti 1
Adab Dalam Masjid - antara Bawang dan Rokok
حَدَّثَنِيْ شَيْخُنَا الوَالِد الشَّيْخُ المُحَدِّثُ الحَافِظُ المُعَمَّرُ الفَقِيْهُ أَحْمَدُ بنُ يَحْيَى بنِ مُحَمَّد شَبِيْر النَّجْمِيُّ آل شَبِيْر الأَثَرِيُّ –حفظه الله -
عَنْ مُحَمَّد خَيْرِ الحَجِّيِّ عَنْ أَمَةِ اللهِ الدَّهْلَوِيَّةِ عَنْ أَبِيْهاَ عَبْدِ الغَنِيِّ الدَّهْلَوِيِّ المَدَنِيِّ عَنْ مُحَمَّد عَابِدِ السِّنْدِيِّ,
(ح) وَعَنْ مُحَمَّدِ بنِ عَبدِ الرَّحْمَنِ بنِ إِسْحَاقَ آلُ الشَّيْخِ عَن سَعْدِ بنِ حَمَدِ بنِ عَتِيْقٍ عَنْ صَدِّيْق حَسَن خَان القَنُوْجِيِّ عَن عَبْدِ الحَقِّ بنِ فَضْلِ اللهِ العُثْمَانِيِّ,كِلاَهُمَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مُحَمَّدِ بنِ إِسْمَاعِيلَ الأَمِيرِ عَنْ أَبِيْهِ مُحَمَّدِ بنِ إِسْمَاعِيلَ الأَمِيْرِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عَبدِ اللهِ بنِ سَالِمِ البَصْرِيِّ المَكِّيِّ عَن إِبْرَاهِيْمَ الكَوْرَانِيِّ عَنْ سُلْطَانِ المُزَاحِيِّ عَن النُّوْرِ الزِّيَادِيِّ عَن الشَّمْسِ مُحَمَّدِ الرَّمْلِيِّ عَن زَكَرِيَّا الأَنْصَارِيِّ عَنِ العِزِّ بنِ الفُرَاتِ عَن عُمَرَ ابنِ أميلة عَنِ ابنِ البُخَارِيِّ عَنِ الإِمَامِ الحَافِظِ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبدِ الغَنِيِّ بنِ عَبدِ الوَاحِدِ المَقْدِسِيِّ-رحمه الله- صَاحِبِ عُمْدَةِ الأَحْكَامِ, أَنَّهُ قَالَ :
عَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اللهِ t عَنِ النَّبِيِّ e أَنَّهُ قَالَ : ((مَنْ أَكَلَ ثُوْماً أَوْ بَصَلاً فَلْيَعْتَزِلْنَا, وَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا, وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ. وَأُتِيَ بِقِدْرٍ فِيْهِ خَضِرَاتٌ مِنْ بُقُوْلٍ, فَوَجَدَ لَهَا رِيْحاً, فَسَأَلَ فَأُخْبِرَ بِمَا فِيْهَا مِنَ البُقُوْلِ, فَقَالَ : قَرِّبُوْهَا إِلَى بَعْضِ أَصْحَابِي. فَلَمَّا رَآهُ كَرِهَ أَكْلَهَا, قَالَ : كُلْ فَإِنِّي أُنَاجِي مَِنْ لاَ تُنَاجِي))(
Telah menyampaikan kepada saya Syaikhuna As-Syaikh Al Muhaddits Al Hafizh Al Faqih Mufti Kerajaan Saudi Arabia Bagian Selatan, Ahmad bin Yahya bin Muhammad Syabir An-Najmi Alu Syabir Al Atsari –Hafizhahullah- dengan sanad yang bersambung sampai kepada Al Imam Al Hafizh Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al Maqdisi –Rahimahullah-, beliau berkata dalam kitabnya Umdatul Ahkam :
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa memakan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung, maka janganlah dia mendekati masjid kami. Sebab sesungguhnya para malaikat terganggu sebagaimana manusia terganggu darinya”.
Fikih Hadits :
Telah lalu syarah hadits sebelumnya yang tidak perlu diulangi disini. Dan Nabi e telah menambah bawang bakung di dalam hadits ini. Yaitu semakna dengan bawang merah dan bawang putih. Saya telah menyebutkannya pada syarah hadits sebelumnya dan sebabnya adalah sama.
Ibnu Daqiqil Id berkata : Para ahli qiyas telah memperluas masalah ini, sampai sebagian mereka berpendapat bahwa barangsiapa memiliki bau mulut tidak sedap atau memiliki borok/eksim yang berbau, maka hukum ini berlaku padanya.
Saya berkata : Dan diantara hal-hal yang bisa dimasukkan kedalamnya dan berlaku hukumnya padanya tanpa bimbang dan ragu adalah rokok, yaitu tembakau dengan berbagai jenisnya, sama saja apakah yang dibakar seperti rokok sigaret, syisyah dengan peralatan khasnya (lihat keterangan terlampir -ed), atau tembakau bubuk yaitu yang dinamakan syammah atau burduqan, atau yang dihirup yaitu ‘anjaz.
Semuanya itu digolongkan bersama bawang merah dan bawang putih kepada sebab penghalang untuk masuk ke dalam masjid-masjid, yaitu bau busuk atau tidak sedap yang dapat mengganggu para malaikat dan orang-orang shalih. Bahkan ia (rokok dengan berbagai jenisnya) lebih busuk dan lebih tidak sedap.
Terdapat perbedaan antara rokok dengan berbagai jenisnya dan bawang putih serta bawang merah :
Diantaranya : Bahwa bawang merah dan bawang putih adalah halal dengan ketetapan hadits dan kesepakatan kaum muslimin akan kehalalannya. Barangsiapa yang meriwayatkan tentangnya dari Zhahiriyah bahwa mereka mengharamkannya, maka menurut mereka (sebenarnya) bukan pada dzatnya, akan tetapi karena menghalangi shalat berjamaah. Padahal shalat berjamaah adalah kewajiban bagi setiap individu. Dan pendapat yang masyhur (tentang bawang) dari Zhahiriyah justru sebaliknya.
Dan diantaranya : Bahwa bawang merah dan bawang putih termasuk asupan yang bermanfaat bagi tubuh manusia menurut kesepakatan para ahli kesehatan. Sedangkan rokok justru sangat berbahaya bagi tubuh menurut kesepakatan para ahli kesehatan. Dan pada tahun 1975, WHO telah mengumumkan bahwa merokok sangat berbahaya bagi kesehatan dari penyakit TBC, kusta, tha’un/pes paru-paru dan cacar secara keseluruh
Majalah HEXAUON no 3 tahun 1978 terbit di Swiss menyebutkan bahwa para produsen tembakau dapat memproduksi setiap harinya dua sigaret rokok untuk setiap orang diseluruh dunia. Dan jika jumlah ini diambil sekaligus niscaya sigaret-sigaret itu akan dapat membinasakan manusia dalam beberapa jam. Dan dengan perbandingan bom atom yang diledakkan di Hiroshima pada tanggal 16 Agustus 1945 mampu membinasakan 260 ribu manusia, sementara sigaret-sigaret itu setiap tahunnya membinasakan sedikitnya sepuluh persen dari seluruh korban yang meninggal di berbagai negara maju.
Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa merokok dapat menimbulkan dua puluh macam penyakit mematikan. Dan pembagiannya adalah sebagai berikut :
a. Pada alat pernafasan terdapat empat penyakit, Kanker paru-paru., Kanker tenggorokan., Radang pembuluh pernafasan kronik. Al Amghazima
b. Pada hati dan saluran aliran darah terdapat tiga penyakit, Serangan jantung dan kematian mendadak, Sumbatan saluran darah ke otak yang dapat mengakibatkan kelumpuhan. Tidak stabilnya aliran darah ke anggota tubuh dan terdapat sumbatan-sumbatan.
c. Pada alat pencernaan terdapat lima penyakit. Kanker bibir. Kanker mulut dan tenggorokan. Kanker saluran pencernaan. Luka pada lambung dan usus dua belas jari. Kanker pankreas
d. Pada saluran kencing terdapat tiga penyakit. Pem bengkakan kandung kemih. Kanker kandung kemih. Kanker ginjal.
Inilah lima belas macam penyakit, dan masih ada lima belas macam penyakit lainnya yang menyerang wanita hamil dan anak-anak serta penyakit-penyakit aneh lainnya. Ini adalah selain penyakit yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit lainnya seperti asma, radang kulit dan infeksi pada hidung, telinga dan tenggorokan
Dan karena telah jelas bahayanya, maka haram penggunaannya, sebab Allah Ta’ala berfirman :
] وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً [ (النساء: مِن الآية29).
Artinya : Dan janganlah kalian membunuh diri kalian; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.
Kami menyeru kepada seluruh manusia pada umumnya dan para pendidik pada khususnya untuk bertakwa kepada Allah pada diri-diri kalian dan pada orang-orang yang berada di dalam tanggungjawab kalian.
Diantaranya bahwa ia (rokok dengan berbagai jenisnya) lebih busuk dan lebih tidak sedap dari pada bawang merah dan bawang putih dan lebih mengganggu para malaikat dan orang-orang shalih. Maka hendaknya para penggunanya dilarang untuk masuk kedalam masjid-masjid, bahkan wajib setiap orang untuk melarang para penggunanya. Sebab ia adalah haram secara qath’i berdasarkan penjelasan saya sebelumnya karena tidak bermanfaat dan kepastian bahayanya yang besar serta kebusukannya juga.
Dan Allah Ta’ala berfirman :
] الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عَندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَن الْمِنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ [ (الأعراف: 157).
Artinya : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang memerintahkan mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.
Dan karena pengkonsumsiannya adalah tindakan israf dan tabdzir, dan Allah Ta’ala berfirman :
] وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ [ (الأعراف: 31).
Dan Allah berfirman :
] وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ [ (غافر: 43).
Artinya : Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka.
Dan Allah berfirman :
] إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانَوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ [ (الإسراء: 27).
Artinya : Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.
Seandainya seseorang bekerja untuk mendapatkan uang, kemudian (uang tersebut) dia bakar, maka dia termasuk orang gila. Bersamaan itu membakar uang adalah musibah. Sedangkan membakarnya dengan menghisap rokok kedalam tubuh, memiliki dua musibah. Yaitu membinasakan harta dan membahayakan tubuh.
Kesimpulannya bahwa merokok adalah haram berdasarkan poin-poin berikut :
Pertama : Tidak bermanfaat, dan pada asalnya memang tidak bermanfaat
Kedua : Kepastian bahayanya karena mengandung bahan-bahan beracun dan membunuh seperti nikotin dan tar.
Ketiga : Kepastian busuknya, dan kebusukannya telah disepakati oleh orang-orang yang berakal. Dan tidak perlu dianggap pendapat para perokok, karena jiwa mereka sedang sakit.
Keempat : Pengkonsumsiannya adalah tindakan israf dan tabdzir serta pembelanjaan harta kepada yang tidak bermanfaat.
Kelima : Ia adalah candu dan bius. Dan telah tsabit dalam As-Sunnah larangan setiap candu dan bius.
Mungkin sebagian orang jahil akan berkata : “Uang ini kan uang saya, saya bebas mau membelanjakannya sekehendak saya”.
Kita katakan kepada mereka : Sesungguhnya harta yang berada di tangan anda adalah amanah. Anda akan ditanya dari mana anda mendapatkannya dan kemana anda membelanjakannya. Dan di dalam hadits :
((لَنْ تَزُوْلَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ.... مِنْهَا : وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ))
Artinya : Tidak akan berpindah kedua kaki seorang hamba di hari kiamat nanti sampai dia ditanya tentang empat hal…. Diantaranya : Dan hartanya, dari mana dia memperolehnya dan kemana dia membelanjakannya”.
Wabillahit-taufiq. Selesai.
Adab Dalam Masjid - antara Bawang dan Rokok
حَدَّثَنِيْ شَيْخُنَا الوَالِد الشَّيْخُ المُحَدِّثُ الحَافِظُ المُعَمَّرُ الفَقِيْهُ أَحْمَدُ بنُ يَحْيَى بنِ مُحَمَّد شَبِيْر النَّجْمِيُّ آل شَبِيْر الأَثَرِيُّ –حفظه الله -
عَنْ مُحَمَّد خَيْرِ الحَجِّيِّ عَنْ أَمَةِ اللهِ الدَّهْلَوِيَّةِ عَنْ أَبِيْهاَ عَبْدِ الغَنِيِّ الدَّهْلَوِيِّ المَدَنِيِّ عَنْ مُحَمَّد عَابِدِ السِّنْدِيِّ,
(ح) وَعَنْ مُحَمَّدِ بنِ عَبدِ الرَّحْمَنِ بنِ إِسْحَاقَ آلُ الشَّيْخِ عَن سَعْدِ بنِ حَمَدِ بنِ عَتِيْقٍ عَنْ صَدِّيْق حَسَن خَان القَنُوْجِيِّ عَن عَبْدِ الحَقِّ بنِ فَضْلِ اللهِ العُثْمَانِيِّ,كِلاَهُمَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مُحَمَّدِ بنِ إِسْمَاعِيلَ الأَمِيرِ عَنْ أَبِيْهِ مُحَمَّدِ بنِ إِسْمَاعِيلَ الأَمِيْرِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عَبدِ اللهِ بنِ سَالِمِ البَصْرِيِّ المَكِّيِّ عَن إِبْرَاهِيْمَ الكَوْرَانِيِّ عَنْ سُلْطَانِ المُزَاحِيِّ عَن النُّوْرِ الزِّيَادِيِّ عَن الشَّمْسِ مُحَمَّدِ الرَّمْلِيِّ عَن زَكَرِيَّا الأَنْصَارِيِّ عَنِ العِزِّ بنِ الفُرَاتِ عَن عُمَرَ ابنِ أميلة عَنِ ابنِ البُخَارِيِّ عَنِ الإِمَامِ الحَافِظِ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبدِ الغَنِيِّ بنِ عَبدِ الوَاحِدِ المَقْدِسِيِّ-رحمه الله- صَاحِبِ عُمْدَةِ الأَحْكَامِ, أَنَّهُ قَالَ :
عَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اللهِ t عَنِ النَّبِيِّ e أَنَّهُ قَالَ : ((مَنْ أَكَلَ ثُوْماً أَوْ بَصَلاً فَلْيَعْتَزِلْنَا, وَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا, وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ. وَأُتِيَ بِقِدْرٍ فِيْهِ خَضِرَاتٌ مِنْ بُقُوْلٍ, فَوَجَدَ لَهَا رِيْحاً, فَسَأَلَ فَأُخْبِرَ بِمَا فِيْهَا مِنَ البُقُوْلِ, فَقَالَ : قَرِّبُوْهَا إِلَى بَعْضِ أَصْحَابِي. فَلَمَّا رَآهُ كَرِهَ أَكْلَهَا, قَالَ : كُلْ فَإِنِّي أُنَاجِي مَِنْ لاَ تُنَاجِي))(
Telah menyampaikan kepada saya Syaikhuna As-Syaikh Al Muhaddits Al Hafizh Al Faqih Mufti Kerajaan Saudi Arabia Bagian Selatan, Ahmad bin Yahya bin Muhammad Syabir An-Najmi Alu Syabir Al Atsari –Hafizhahullah- dengan sanad yang bersambung sampai kepada Al Imam Al Hafizh Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al Maqdisi –Rahimahullah-, beliau berkata dalam kitabnya Umdatul Ahkam :
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa memakan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung, maka janganlah dia mendekati masjid kami. Sebab sesungguhnya para malaikat terganggu sebagaimana manusia terganggu darinya”.
Fikih Hadits :
Telah lalu syarah hadits sebelumnya yang tidak perlu diulangi disini. Dan Nabi e telah menambah bawang bakung di dalam hadits ini. Yaitu semakna dengan bawang merah dan bawang putih. Saya telah menyebutkannya pada syarah hadits sebelumnya dan sebabnya adalah sama.
Ibnu Daqiqil Id berkata : Para ahli qiyas telah memperluas masalah ini, sampai sebagian mereka berpendapat bahwa barangsiapa memiliki bau mulut tidak sedap atau memiliki borok/eksim yang berbau, maka hukum ini berlaku padanya.
Saya berkata : Dan diantara hal-hal yang bisa dimasukkan kedalamnya dan berlaku hukumnya padanya tanpa bimbang dan ragu adalah rokok, yaitu tembakau dengan berbagai jenisnya, sama saja apakah yang dibakar seperti rokok sigaret, syisyah dengan peralatan khasnya (lihat keterangan terlampir -ed), atau tembakau bubuk yaitu yang dinamakan syammah atau burduqan, atau yang dihirup yaitu ‘anjaz.
Semuanya itu digolongkan bersama bawang merah dan bawang putih kepada sebab penghalang untuk masuk ke dalam masjid-masjid, yaitu bau busuk atau tidak sedap yang dapat mengganggu para malaikat dan orang-orang shalih. Bahkan ia (rokok dengan berbagai jenisnya) lebih busuk dan lebih tidak sedap.
Terdapat perbedaan antara rokok dengan berbagai jenisnya dan bawang putih serta bawang merah :
Diantaranya : Bahwa bawang merah dan bawang putih adalah halal dengan ketetapan hadits dan kesepakatan kaum muslimin akan kehalalannya. Barangsiapa yang meriwayatkan tentangnya dari Zhahiriyah bahwa mereka mengharamkannya, maka menurut mereka (sebenarnya) bukan pada dzatnya, akan tetapi karena menghalangi shalat berjamaah. Padahal shalat berjamaah adalah kewajiban bagi setiap individu. Dan pendapat yang masyhur (tentang bawang) dari Zhahiriyah justru sebaliknya.
Dan diantaranya : Bahwa bawang merah dan bawang putih termasuk asupan yang bermanfaat bagi tubuh manusia menurut kesepakatan para ahli kesehatan. Sedangkan rokok justru sangat berbahaya bagi tubuh menurut kesepakatan para ahli kesehatan. Dan pada tahun 1975, WHO telah mengumumkan bahwa merokok sangat berbahaya bagi kesehatan dari penyakit TBC, kusta, tha’un/pes paru-paru dan cacar secara keseluruh
Majalah HEXAUON no 3 tahun 1978 terbit di Swiss menyebutkan bahwa para produsen tembakau dapat memproduksi setiap harinya dua sigaret rokok untuk setiap orang diseluruh dunia. Dan jika jumlah ini diambil sekaligus niscaya sigaret-sigaret itu akan dapat membinasakan manusia dalam beberapa jam. Dan dengan perbandingan bom atom yang diledakkan di Hiroshima pada tanggal 16 Agustus 1945 mampu membinasakan 260 ribu manusia, sementara sigaret-sigaret itu setiap tahunnya membinasakan sedikitnya sepuluh persen dari seluruh korban yang meninggal di berbagai negara maju.
Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa merokok dapat menimbulkan dua puluh macam penyakit mematikan. Dan pembagiannya adalah sebagai berikut :
a. Pada alat pernafasan terdapat empat penyakit, Kanker paru-paru., Kanker tenggorokan., Radang pembuluh pernafasan kronik. Al Amghazima
b. Pada hati dan saluran aliran darah terdapat tiga penyakit, Serangan jantung dan kematian mendadak, Sumbatan saluran darah ke otak yang dapat mengakibatkan kelumpuhan. Tidak stabilnya aliran darah ke anggota tubuh dan terdapat sumbatan-sumbatan.
c. Pada alat pencernaan terdapat lima penyakit. Kanker bibir. Kanker mulut dan tenggorokan. Kanker saluran pencernaan. Luka pada lambung dan usus dua belas jari. Kanker pankreas
d. Pada saluran kencing terdapat tiga penyakit. Pem bengkakan kandung kemih. Kanker kandung kemih. Kanker ginjal.
Inilah lima belas macam penyakit, dan masih ada lima belas macam penyakit lainnya yang menyerang wanita hamil dan anak-anak serta penyakit-penyakit aneh lainnya. Ini adalah selain penyakit yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit lainnya seperti asma, radang kulit dan infeksi pada hidung, telinga dan tenggorokan
Dan karena telah jelas bahayanya, maka haram penggunaannya, sebab Allah Ta’ala berfirman :
] وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً [ (النساء: مِن الآية29).
Artinya : Dan janganlah kalian membunuh diri kalian; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.
Kami menyeru kepada seluruh manusia pada umumnya dan para pendidik pada khususnya untuk bertakwa kepada Allah pada diri-diri kalian dan pada orang-orang yang berada di dalam tanggungjawab kalian.
Diantaranya bahwa ia (rokok dengan berbagai jenisnya) lebih busuk dan lebih tidak sedap dari pada bawang merah dan bawang putih dan lebih mengganggu para malaikat dan orang-orang shalih. Maka hendaknya para penggunanya dilarang untuk masuk kedalam masjid-masjid, bahkan wajib setiap orang untuk melarang para penggunanya. Sebab ia adalah haram secara qath’i berdasarkan penjelasan saya sebelumnya karena tidak bermanfaat dan kepastian bahayanya yang besar serta kebusukannya juga.
Dan Allah Ta’ala berfirman :
] الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عَندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَن الْمِنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ [ (الأعراف: 157).
Artinya : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang memerintahkan mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.
Dan karena pengkonsumsiannya adalah tindakan israf dan tabdzir, dan Allah Ta’ala berfirman :
] وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ [ (الأعراف: 31).
Dan Allah berfirman :
] وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ [ (غافر: 43).
Artinya : Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka.
Dan Allah berfirman :
] إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانَوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ [ (الإسراء: 27).
Artinya : Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.
Seandainya seseorang bekerja untuk mendapatkan uang, kemudian (uang tersebut) dia bakar, maka dia termasuk orang gila. Bersamaan itu membakar uang adalah musibah. Sedangkan membakarnya dengan menghisap rokok kedalam tubuh, memiliki dua musibah. Yaitu membinasakan harta dan membahayakan tubuh.
Kesimpulannya bahwa merokok adalah haram berdasarkan poin-poin berikut :
Pertama : Tidak bermanfaat, dan pada asalnya memang tidak bermanfaat
Kedua : Kepastian bahayanya karena mengandung bahan-bahan beracun dan membunuh seperti nikotin dan tar.
Ketiga : Kepastian busuknya, dan kebusukannya telah disepakati oleh orang-orang yang berakal. Dan tidak perlu dianggap pendapat para perokok, karena jiwa mereka sedang sakit.
Keempat : Pengkonsumsiannya adalah tindakan israf dan tabdzir serta pembelanjaan harta kepada yang tidak bermanfaat.
Kelima : Ia adalah candu dan bius. Dan telah tsabit dalam As-Sunnah larangan setiap candu dan bius.
Mungkin sebagian orang jahil akan berkata : “Uang ini kan uang saya, saya bebas mau membelanjakannya sekehendak saya”.
Kita katakan kepada mereka : Sesungguhnya harta yang berada di tangan anda adalah amanah. Anda akan ditanya dari mana anda mendapatkannya dan kemana anda membelanjakannya. Dan di dalam hadits :
((لَنْ تَزُوْلَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ.... مِنْهَا : وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ))
Artinya : Tidak akan berpindah kedua kaki seorang hamba di hari kiamat nanti sampai dia ditanya tentang empat hal…. Diantaranya : Dan hartanya, dari mana dia memperolehnya dan kemana dia membelanjakannya”.
Wabillahit-taufiq. Selesai.
Jumat, 20 November 2009
Budi Pekerti 2
“Tidaklah seseorang mengerjakan amal shaleh karena mengharapkan yang telah dijanjikan Allah dan membenarkan pahala yang akan diterima, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga’ (HR. Bukhari)
Allah berfirman,
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az-Zalzalah : 7-8)
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Hud : 114)
Karena itu, tolonglah orang yang mendapatkan bencana, berilah orang yang tidak mendapatkan rezeki, tolonglah orang yang dizalimi, berilah makan orang yang sedang kelaparan, berilah minum orang yang sedang kehausan, jenguklah orang yang sedang sakit, antarkan jenazah orang yang meninggal, hiburlah orang yang mendapat musibah. Tuntunlah orang yang buta, tunjukilah orang yang tersesat, hormatilah tamu yang datang. Berbuat baiklah kepada tetangga, hormatilah orang yang lebih tua dan kasihanilah orang yang lebih muda. Jangan pelit dengan makanan yang anda miliki, bersedekahlah dengan harta milik anda, haluskanlah tutur kata anda, dan janganlah anda menyakiti seseorang sebab itu akan menjadi sedekah bagi anda.
Nilai-nilai yang indah dan sifat-sifat yang tinggi tersebut akan membawa kebahagiaan dan kedamaian. Juga, dapat mengusir kesedihan, kesuntukan dan keresahan yang ada.
Demi Allah, sungguh budi pekerti yang bagus sekali. Jika budi pekerti itu adalah seorang pria, maka pastilah seorang lelaki yang gagah dan cakep, berbau wangi, namanya bagus, dan wajahnya selalu ceria.
sumber http://istiqom4h.wordpress.com/2008/08/18/cara-untuk-memperoleh-budi-pekerti-yang-baik/
Allah berfirman,
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az-Zalzalah : 7-8)
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Hud : 114)
Karena itu, tolonglah orang yang mendapatkan bencana, berilah orang yang tidak mendapatkan rezeki, tolonglah orang yang dizalimi, berilah makan orang yang sedang kelaparan, berilah minum orang yang sedang kehausan, jenguklah orang yang sedang sakit, antarkan jenazah orang yang meninggal, hiburlah orang yang mendapat musibah. Tuntunlah orang yang buta, tunjukilah orang yang tersesat, hormatilah tamu yang datang. Berbuat baiklah kepada tetangga, hormatilah orang yang lebih tua dan kasihanilah orang yang lebih muda. Jangan pelit dengan makanan yang anda miliki, bersedekahlah dengan harta milik anda, haluskanlah tutur kata anda, dan janganlah anda menyakiti seseorang sebab itu akan menjadi sedekah bagi anda.
Nilai-nilai yang indah dan sifat-sifat yang tinggi tersebut akan membawa kebahagiaan dan kedamaian. Juga, dapat mengusir kesedihan, kesuntukan dan keresahan yang ada.
Demi Allah, sungguh budi pekerti yang bagus sekali. Jika budi pekerti itu adalah seorang pria, maka pastilah seorang lelaki yang gagah dan cakep, berbau wangi, namanya bagus, dan wajahnya selalu ceria.
sumber http://istiqom4h.wordpress.com/2008/08/18/cara-untuk-memperoleh-budi-pekerti-yang-baik/
budi pekerti 2
Budi Pekerti Yang Baik
1. Budi perkerti yang mulia ada 10 (sepuluh), yaitu : dermawan, malu, jujur, menyampaikan amanat, rendah hati (tawadhu), cemburu, berani, santun, sabar dan syukur.
2. Tiga macam orang yang tidak diketahui sifatnya, kecuali dalam tiga situasi : 1). Tidak ketahui orang pemberani kecuali dalam perang, 2). tidak diketahui orang yang penyabar kecuali ketika sedang marah, dan 3). Tidak diketahui sebagai teman kecuali ketika (temanya) sedang butuh.
3. Janganlah sekali-kali engkau menjadi orang yang keburukannya lebih kuat daripada kebaikannya, kekikirannya lebih kuat daripada kedermawanannya, dan kekurangannya lebih kuat daripada kebajikannya.
4. Pandanglah buruk pada dirimu apa yang engkau pandang buruk pada orang selainmu.
5. Hendaklah engkau ridha akan perlakuan orang-orang terhadapmu sama seperti engkau ridha atas perlakukanmu terhadap mereka.
6. Akhlaq seseorang terukur ketika melakukan perjalanan (jauh).
7. Kasihanilah orang-orang fakir yang sedikit kesabarannya, kasihanilah orang-orang kaya yang sedikit syukurnya, dan kasihanilah keduanya karena lamanya kelalaian mereka (terhadap Allah Ta’ala).
8. Semulia-mulianya raja adalah yang tidak dicampuri kesombongan dan tidak menyimpang dari kebenaran. Sekaya-kaya orang adalah yang tidak tertawan oleh ketamakan. Sebaik-baiknya kawan adalah yang tidak menyulitkan kawan-kawannya. Dan sebaik-baiknya akhlaq adalah yang paling membantu dalam ketaqwaan dan ke wara’an (kehati-hatian dalam agama).
9. Seseorang tidak akan menjadi mulia sehingga dia tidak peduli dengan pakaian yang mana saja dia muncul (ditengah-tengah masyarakatnya).
(Seri Kata-Kata Mutiara Amirul Mukminin Imam Ali Bin Abi Thalib as)
http://markaskio.wordpress.com/2007/06/14/budi-pekerti-yang-baik/
1. Budi perkerti yang mulia ada 10 (sepuluh), yaitu : dermawan, malu, jujur, menyampaikan amanat, rendah hati (tawadhu), cemburu, berani, santun, sabar dan syukur.
2. Tiga macam orang yang tidak diketahui sifatnya, kecuali dalam tiga situasi : 1). Tidak ketahui orang pemberani kecuali dalam perang, 2). tidak diketahui orang yang penyabar kecuali ketika sedang marah, dan 3). Tidak diketahui sebagai teman kecuali ketika (temanya) sedang butuh.
3. Janganlah sekali-kali engkau menjadi orang yang keburukannya lebih kuat daripada kebaikannya, kekikirannya lebih kuat daripada kedermawanannya, dan kekurangannya lebih kuat daripada kebajikannya.
4. Pandanglah buruk pada dirimu apa yang engkau pandang buruk pada orang selainmu.
5. Hendaklah engkau ridha akan perlakuan orang-orang terhadapmu sama seperti engkau ridha atas perlakukanmu terhadap mereka.
6. Akhlaq seseorang terukur ketika melakukan perjalanan (jauh).
7. Kasihanilah orang-orang fakir yang sedikit kesabarannya, kasihanilah orang-orang kaya yang sedikit syukurnya, dan kasihanilah keduanya karena lamanya kelalaian mereka (terhadap Allah Ta’ala).
8. Semulia-mulianya raja adalah yang tidak dicampuri kesombongan dan tidak menyimpang dari kebenaran. Sekaya-kaya orang adalah yang tidak tertawan oleh ketamakan. Sebaik-baiknya kawan adalah yang tidak menyulitkan kawan-kawannya. Dan sebaik-baiknya akhlaq adalah yang paling membantu dalam ketaqwaan dan ke wara’an (kehati-hatian dalam agama).
9. Seseorang tidak akan menjadi mulia sehingga dia tidak peduli dengan pakaian yang mana saja dia muncul (ditengah-tengah masyarakatnya).
(Seri Kata-Kata Mutiara Amirul Mukminin Imam Ali Bin Abi Thalib as)
http://markaskio.wordpress.com/2007/06/14/budi-pekerti-yang-baik/
Selasa, 17 November 2009
Jujur
Mukadimah
Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.
Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,
“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Definisi Jujur
Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.
Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).
Allah berfirman,
“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah: 119)
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)
Keutamaan Jujur
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”
Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.
Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.
Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,
“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”
Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.
Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.
Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya -dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruf), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.
Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)
“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. al-Maidah: 119)
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)
“Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)
Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”
Macam-Macam Kejujuran
1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.
2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. at-Taubah: 75-76)
4. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”
5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15)
Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.
Khatimah
Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran sebagaimana firman Allah,
“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’: 80)
Allah juga mengabarkan tentang Nabi Ibrahim yang memohon kepada-Nya untuk dijadikan buah tutur yang baik.
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. asy-Syu’ara’: 84)
Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung kepada Allah. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan akhirat. Allah telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan, sedekah ataupun kesabaran. Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Allah berfirman,
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177)
Di sini dijelaskan dengan terang bahwa kebenaran itu tampak dalam amal lahiriah dan ini merupakan kedudukan dalam Islam dan Iman. Kejujuran serta keikhlasan keduanya merupakan realisasi dari keislaman dan keamanan.
Orang yang menampakkan keislaman pada dhahir (penampilannya) terbagi menjadi dua: mukmin (orang yang beriman) dan munafik (orang munafik). Yang membedakan diantara keduanya adalah kejujuran dan kebenaran atas keyakinannya. Oleh sebab itu, Allah menyebut hakekat keimanan dan mensifatinya dengan kebenaran dan kejujuran, sebagaimana firman Allah,
“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hasyr: 8)
Lawan dari jujur adalah dusta. Dan dusta termasuk dosa besar, sebagaimana firman Allah,
“Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)
Dusta merupakan tanda dari kemunafikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mungkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari, Kitab-Iman: 32)
Kedustaan akan mengantarkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan menjerumuskan ke dalam neraka. Bahaya kedustaan sangatlah besar, dan siksa yang diakibatkannya amatlah dahsyat, maka wajib bagi kita untuk selalu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan muamalah kita. Dengan demikian jika kita senantiasa menjauhi kedustaan, niscaya kita akan mendapatkan pahala sebagai orang-orang yang jujur dan selamat dari siksa para pendusta. Waallahu A’lam.
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. az-Zumar: 32-35)
Referensi:
1. Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
2. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.
3. Mukhtarat min Al-Khutab Al-Mimbariah, karya Syaikh Shalih ibn Fauzan ; cet. Ke - 1, Jam’iayah Ihya’ At-Turats Al-Islamy.
4. Syarh Riyadhus As-Shalihin, karya Syaikh Mahammad ibn Shalih Al-Utsaimin ; cet - 1 ; Dar- Wathan, Riyadh, KSA.
Sumber www.muslim.or.id
Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.
Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,
“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Definisi Jujur
Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.
Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).
Allah berfirman,
“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah: 119)
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)
Keutamaan Jujur
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”
Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.
Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.
Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,
“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”
Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.
Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.
Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya -dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruf), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.
Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)
“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. al-Maidah: 119)
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)
“Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)
Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”
Macam-Macam Kejujuran
1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.
2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. at-Taubah: 75-76)
4. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”
5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15)
Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.
Khatimah
Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran sebagaimana firman Allah,
“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’: 80)
Allah juga mengabarkan tentang Nabi Ibrahim yang memohon kepada-Nya untuk dijadikan buah tutur yang baik.
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. asy-Syu’ara’: 84)
Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung kepada Allah. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan akhirat. Allah telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan, sedekah ataupun kesabaran. Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Allah berfirman,
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177)
Di sini dijelaskan dengan terang bahwa kebenaran itu tampak dalam amal lahiriah dan ini merupakan kedudukan dalam Islam dan Iman. Kejujuran serta keikhlasan keduanya merupakan realisasi dari keislaman dan keamanan.
Orang yang menampakkan keislaman pada dhahir (penampilannya) terbagi menjadi dua: mukmin (orang yang beriman) dan munafik (orang munafik). Yang membedakan diantara keduanya adalah kejujuran dan kebenaran atas keyakinannya. Oleh sebab itu, Allah menyebut hakekat keimanan dan mensifatinya dengan kebenaran dan kejujuran, sebagaimana firman Allah,
“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hasyr: 8)
Lawan dari jujur adalah dusta. Dan dusta termasuk dosa besar, sebagaimana firman Allah,
“Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)
Dusta merupakan tanda dari kemunafikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mungkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari, Kitab-Iman: 32)
Kedustaan akan mengantarkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan menjerumuskan ke dalam neraka. Bahaya kedustaan sangatlah besar, dan siksa yang diakibatkannya amatlah dahsyat, maka wajib bagi kita untuk selalu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan muamalah kita. Dengan demikian jika kita senantiasa menjauhi kedustaan, niscaya kita akan mendapatkan pahala sebagai orang-orang yang jujur dan selamat dari siksa para pendusta. Waallahu A’lam.
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. az-Zumar: 32-35)
Referensi:
1. Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
2. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.
3. Mukhtarat min Al-Khutab Al-Mimbariah, karya Syaikh Shalih ibn Fauzan ; cet. Ke - 1, Jam’iayah Ihya’ At-Turats Al-Islamy.
4. Syarh Riyadhus As-Shalihin, karya Syaikh Mahammad ibn Shalih Al-Utsaimin ; cet - 1 ; Dar- Wathan, Riyadh, KSA.
Sumber www.muslim.or.id
Berpakaian
Pakaian merupakan salah satu nikmat sangat besar yang Allah berikan kepada para hambanya, Islam mengajarkan agar seorang muslim berpakain dengan pakaian islami dengan tuntunan yang telah Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Berikut ini adalah adab-adab berkenaan dengan berpakaian yang sepantasnya diketahui oleh seorang muslim.
Mendahulukan yang Kanan
Di antara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mendahulukan yang kanan ketika memakai pakaian dan semacamnya. Dalil pokok dalam masalah ini, dari Aisyah Ummul Mukminin beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci, bersisir dan memakai sandal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam redaksi muslim dikatakan, “Rasulullah menyukai mendahulukan yang kanan dalam segala urusan, ketika memakai sandal, bersisir dan bersuci.”
Mengomentari hadits di atas, Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini mengandung kaidah baku dalam syariat, yaitu segala sesuatu yang mulia dan bernilai maka dianjurkan untuk mendahulukan yang kanan pada saat itu semisal memakai baju, celana panjang, sepatu, masuk ke dalam masjid, bersiwak, bercelak, memotong kuku, menggunting kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, menggundul kepala, mengucapkan salam sebagai tanda selesai shalat, membasuh anggota wudhu, keluar dari WC, makan dan minum, berjabat tangan, menyentuh hajar aswad dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang berkebalikan dari hal yang diatas dianjurkan untuk menggunakan sisi kiri semisal masuk WC, keluar dari masjid, membuang ingus, istinjak, mencopot baju, celana panjang dan sepatu. Ini semua dikarenakan sisi kanan itu memiliki kelebihan dan kemuliaan.” (Syarah Muslim, 3/131)
Adab Memakai Sandal
Yang sesuai sunnah berkaitan dengan memakai sandal adalah memasukkan kaki kanan terlebih dahulu baru kaki kiri. Ketika melepas kaki kiri dulu baru kaki kanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian memakai sandal, maka hendaklah dimulai yang kanan dan bila dicopot maka hendaklah mulai yang kiri. Sehingga kaki kanan merupakan kaki yang pertama kali diberi sandal dan kaki terakhir yang sandal dilepas darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Larangan Hanya Memakai Satu Sandal
Demikian pula seorang muslim dimakruhkan hanya menggunakan satu buah sandal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika tali sandal kalian copot maka janganlah berjalan dengan satu sandal sehingga memperbaiki sandal yang rusak.” (HR. Muslim)
Demikian pula dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlah kalian berjalan menggunakan satu sandal. Hendaknya kedua sandal tersebut dilepas ataukah keduanya dipakai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perlu diketahui bahwa dua hal di atas hukumnya adalah dianjurkan dan tidak wajib. Oleh karena itu, orang yang mendapatkan masalah dengan alas kakinya karena tali sandal copot maka hendaknya berhenti sejenak untuk memperbaiki sandal tersebut untuk melepas semua sandal lalu melanjutkan perjalanan. Tidak sepantasnya bagi seorang mukmin menyelisihi larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun hukumnya makruh dan tidak sampai derajat haram. Hendaknya kita berlatih dan membiasakan diri untuk mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir dan bathin sehingga mendapatkan kemuliaan karena ittiba’ dengan sunnah Nabi secara hakiki.
Sebenarnya, makna eksplisit dari larangan memakai satu sandal adalah menunjukkan hukum haram andai tidak terdapat pernyataan Imam Nawawi yang mengklaim bahwa memakai dua sandal sekaligus itu disepakati sebagai perkara yang dianjurkan dan tidak wajib. Dalam Riyadhus Shalihin beliau memberi judul untuk hadits-hadits di atas dengan hukum makruh saja. Maka keabsahan nukilan ini perlu dikaji dengan lebih seksama jika ternyata tidak benar maka makna eksplisit larangan dan berbagai penjelasan ulama tentang motif larangan ini menunjukkan bahwasanya menggunakan satu alas kaki saja itu hukumnya haram.
Perkataan Para Ulama Tentang Sebab Pelarangan Tersebut
Mengenai larangan berjalan dengan satu sandal, para ulama memberikan beragam keterangan tentang motif Nabi dengan larangan tersebut. Imam Nawawi menyatakan bahwa para ulama mengatakan sebab larangan tersebut adalah karena menyebabkan pemandangan yang tidak pantas dilihat. Nampak cacat dan menyelisihi sikap wibawa. Di samping itu, kaki yang bersandal jelas lebih tinggi daripada kaki yang lain. Hal ini tentu menimbulkan kesulitan saat berjalan. Bahkan boleh jadi menyebabkan terpeselet. (Syarah Muslim, 14/62)
Sedangkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 10/309-310 mengatakan, “Al-Khithabi menyatakan bahwa hikmah larangan menggunakan satu sandal adalah karena itu berfungsi menjaga kaki dari gangguan duri atau semisalnya yang ada di tanah. Jika yang bersandal hanya salah satu kaki maka orang tersebut harus ekstra hati-hati untuk menjaga kaki yang lain, satu hal yang tidak perlu dilakukan untuk kaki yang bersandal. Kondisi ini menyebabkan gaya berjalan orang ini tidak lagi lumrah dan tidak menutup kemungkinan dia bisa terpeleset. Ada yang berpendapat hal itu dilarang karena tidak bersikap adil terhadap anggota badan dan boleh jadi orang yang berjalan dengan satu sandal dinilai oleh sebagian orang sebagai orang yang akalnya bermasalah. Sedangkan Ibnul Arabi mengatakan, “Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut terlarang karena itu merupakan gaya setan berjalan. Ada pula yang berpendapat karena sikap tersebut merupakan sikap yang tidak wajar dan lumrah. Di sisi lain, Al-Baihaqi berkomentar bahwa hukum makruh karena memakai satu sandal adalah disebabkan hal tersebut merupakan pemicu popularitas. Banyak mata akan tertarik memandangi orang yang berperilaku aneh seperti itu dan terdapat hadits yang melarang pakaian yang menyebabkan popularitas. Karenanya segala sesuatu yang menyebabkan popularitas sangat berhak untuk dijauhi.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan berjalan menggunakan satu sandal.” (HR. Thahawi dalam Musykil Al-atsar, Al-Albani mengatakan setelah menyebutkan sanadnya ini adalah sanad yang shahih, seluruh perawinya adalah orang-orang yang tsiqah, perawi yang dipakai dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim selain ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi namun beliau juga seorang yang kredibel.” (Silsilah shahihah no. 348). Dengan hadits ini jelaslah bagi kita motif dari larangan Nabi untuk berjalan dengan satu sandal karena itulah gaya berjalannya setan. Jika demikian, maka kita tidak perlu memaksa-maksakan diri dan mencari-cari motif pelarangan.
Termasuk Sunnah Adalah Kadang-kadang Berjalan Tanpa Alas Kaki
Namun perlu diketahui bahwa termasuk sunnah Nabi adalah berjalan tanpa alas kaki kadang-kadang, dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pergi menemui Fudhalah bin Ubaid yang tinggal di Mesir. Setelah tiba dia berkata kepada Fudhalah, “Kedatanganku ini bukanlah dengan maksud berkunjung akan tetapi aku mendengar demikian pula engkau sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berharap engkau memiliki ilmu tentangnya. Fudhalah bertanya, “Hadits apa yang engkau maksudkan?” Orang tadi mengatakan, “Demikian dan demikian,” Orang tersebut lalu bertanya, “Kenapa ku lihat rambutmu tidak tersisir rapi padahal engkau adalah seorang penguasa.” Fudhalah mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah melarang kami untuk terlalu sering bersisir.” “Lalu mengapa aku tidak melihatmu memakai sandal?” Tanya orang tersebut. Fudhalah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk kadang-kadang berjalan tanpa alas kaki.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Sumber www.muslim.or.id
Pakaian merupakan salah satu nikmat sangat besar yang Allah berikan kepada para hambanya, Islam mengajarkan agar seorang muslim berpakain dengan pakaian islami dengan tuntunan yang telah Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Berikut ini adalah adab-adab berkenaan dengan berpakaian yang sepantasnya diketahui oleh seorang muslim.
Mendahulukan yang Kanan
Di antara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mendahulukan yang kanan ketika memakai pakaian dan semacamnya. Dalil pokok dalam masalah ini, dari Aisyah Ummul Mukminin beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci, bersisir dan memakai sandal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam redaksi muslim dikatakan, “Rasulullah menyukai mendahulukan yang kanan dalam segala urusan, ketika memakai sandal, bersisir dan bersuci.”
Mengomentari hadits di atas, Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini mengandung kaidah baku dalam syariat, yaitu segala sesuatu yang mulia dan bernilai maka dianjurkan untuk mendahulukan yang kanan pada saat itu semisal memakai baju, celana panjang, sepatu, masuk ke dalam masjid, bersiwak, bercelak, memotong kuku, menggunting kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, menggundul kepala, mengucapkan salam sebagai tanda selesai shalat, membasuh anggota wudhu, keluar dari WC, makan dan minum, berjabat tangan, menyentuh hajar aswad dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang berkebalikan dari hal yang diatas dianjurkan untuk menggunakan sisi kiri semisal masuk WC, keluar dari masjid, membuang ingus, istinjak, mencopot baju, celana panjang dan sepatu. Ini semua dikarenakan sisi kanan itu memiliki kelebihan dan kemuliaan.” (Syarah Muslim, 3/131)
Adab Memakai Sandal
Yang sesuai sunnah berkaitan dengan memakai sandal adalah memasukkan kaki kanan terlebih dahulu baru kaki kiri. Ketika melepas kaki kiri dulu baru kaki kanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian memakai sandal, maka hendaklah dimulai yang kanan dan bila dicopot maka hendaklah mulai yang kiri. Sehingga kaki kanan merupakan kaki yang pertama kali diberi sandal dan kaki terakhir yang sandal dilepas darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Larangan Hanya Memakai Satu Sandal
Demikian pula seorang muslim dimakruhkan hanya menggunakan satu buah sandal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika tali sandal kalian copot maka janganlah berjalan dengan satu sandal sehingga memperbaiki sandal yang rusak.” (HR. Muslim)
Demikian pula dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlah kalian berjalan menggunakan satu sandal. Hendaknya kedua sandal tersebut dilepas ataukah keduanya dipakai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perlu diketahui bahwa dua hal di atas hukumnya adalah dianjurkan dan tidak wajib. Oleh karena itu, orang yang mendapatkan masalah dengan alas kakinya karena tali sandal copot maka hendaknya berhenti sejenak untuk memperbaiki sandal tersebut untuk melepas semua sandal lalu melanjutkan perjalanan. Tidak sepantasnya bagi seorang mukmin menyelisihi larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun hukumnya makruh dan tidak sampai derajat haram. Hendaknya kita berlatih dan membiasakan diri untuk mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir dan bathin sehingga mendapatkan kemuliaan karena ittiba’ dengan sunnah Nabi secara hakiki.
Sebenarnya, makna eksplisit dari larangan memakai satu sandal adalah menunjukkan hukum haram andai tidak terdapat pernyataan Imam Nawawi yang mengklaim bahwa memakai dua sandal sekaligus itu disepakati sebagai perkara yang dianjurkan dan tidak wajib. Dalam Riyadhus Shalihin beliau memberi judul untuk hadits-hadits di atas dengan hukum makruh saja. Maka keabsahan nukilan ini perlu dikaji dengan lebih seksama jika ternyata tidak benar maka makna eksplisit larangan dan berbagai penjelasan ulama tentang motif larangan ini menunjukkan bahwasanya menggunakan satu alas kaki saja itu hukumnya haram.
Perkataan Para Ulama Tentang Sebab Pelarangan Tersebut
Mengenai larangan berjalan dengan satu sandal, para ulama memberikan beragam keterangan tentang motif Nabi dengan larangan tersebut. Imam Nawawi menyatakan bahwa para ulama mengatakan sebab larangan tersebut adalah karena menyebabkan pemandangan yang tidak pantas dilihat. Nampak cacat dan menyelisihi sikap wibawa. Di samping itu, kaki yang bersandal jelas lebih tinggi daripada kaki yang lain. Hal ini tentu menimbulkan kesulitan saat berjalan. Bahkan boleh jadi menyebabkan terpeselet. (Syarah Muslim, 14/62)
Sedangkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 10/309-310 mengatakan, “Al-Khithabi menyatakan bahwa hikmah larangan menggunakan satu sandal adalah karena itu berfungsi menjaga kaki dari gangguan duri atau semisalnya yang ada di tanah. Jika yang bersandal hanya salah satu kaki maka orang tersebut harus ekstra hati-hati untuk menjaga kaki yang lain, satu hal yang tidak perlu dilakukan untuk kaki yang bersandal. Kondisi ini menyebabkan gaya berjalan orang ini tidak lagi lumrah dan tidak menutup kemungkinan dia bisa terpeleset. Ada yang berpendapat hal itu dilarang karena tidak bersikap adil terhadap anggota badan dan boleh jadi orang yang berjalan dengan satu sandal dinilai oleh sebagian orang sebagai orang yang akalnya bermasalah. Sedangkan Ibnul Arabi mengatakan, “Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut terlarang karena itu merupakan gaya setan berjalan. Ada pula yang berpendapat karena sikap tersebut merupakan sikap yang tidak wajar dan lumrah. Di sisi lain, Al-Baihaqi berkomentar bahwa hukum makruh karena memakai satu sandal adalah disebabkan hal tersebut merupakan pemicu popularitas. Banyak mata akan tertarik memandangi orang yang berperilaku aneh seperti itu dan terdapat hadits yang melarang pakaian yang menyebabkan popularitas. Karenanya segala sesuatu yang menyebabkan popularitas sangat berhak untuk dijauhi.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan berjalan menggunakan satu sandal.” (HR. Thahawi dalam Musykil Al-atsar, Al-Albani mengatakan setelah menyebutkan sanadnya ini adalah sanad yang shahih, seluruh perawinya adalah orang-orang yang tsiqah, perawi yang dipakai dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim selain ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi namun beliau juga seorang yang kredibel.” (Silsilah shahihah no. 348). Dengan hadits ini jelaslah bagi kita motif dari larangan Nabi untuk berjalan dengan satu sandal karena itulah gaya berjalannya setan. Jika demikian, maka kita tidak perlu memaksa-maksakan diri dan mencari-cari motif pelarangan.
Termasuk Sunnah Adalah Kadang-kadang Berjalan Tanpa Alas Kaki
Namun perlu diketahui bahwa termasuk sunnah Nabi adalah berjalan tanpa alas kaki kadang-kadang, dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pergi menemui Fudhalah bin Ubaid yang tinggal di Mesir. Setelah tiba dia berkata kepada Fudhalah, “Kedatanganku ini bukanlah dengan maksud berkunjung akan tetapi aku mendengar demikian pula engkau sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berharap engkau memiliki ilmu tentangnya. Fudhalah bertanya, “Hadits apa yang engkau maksudkan?” Orang tadi mengatakan, “Demikian dan demikian,” Orang tersebut lalu bertanya, “Kenapa ku lihat rambutmu tidak tersisir rapi padahal engkau adalah seorang penguasa.” Fudhalah mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah melarang kami untuk terlalu sering bersisir.” “Lalu mengapa aku tidak melihatmu memakai sandal?” Tanya orang tersebut. Fudhalah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk kadang-kadang berjalan tanpa alas kaki.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Sumber www.muslim.or.id
Berbicara
Kls 3
Adab-Adab Berbicara
Allah ta’ala berfirman :
“ Dan janganlah kalianmengikuti apa-apa yang kalian tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggung jawabannya “ (Al-Israa` : 36 )
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga “Di antara adab-adab berbicara :
1. Menjaga Lisan
Yang sepatutnya bagi seorang muslim adalah memperhatikan lisannya dengan baik. Menghindari perkataan yang batil, perkataan dusta, ghibah, adu domba, perkataan yang keji, secara ringkas dari semua itu adalah menjaga lisannya dari segala yang Allah dan Rasul-Nya haramkan.
Seseorang mungkin mengucapkan suatu kalimat yang akan mencelakakan kehidupan dunianya dan juga akhiratnya. Dan bisa pula mengucapkan suatu kalimat dimana dengan kalimat tersebut Allah akan mengangkatnya beberapa derajatnya. Yang menunjukkan hal itu adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“ Sesungguhnya seorang hamba akan berbicara dengan suatu ucapan yang sama sekali dia memperoleh kejelasannya,maka diapun dijerumuskan diapi neraka lebih jauh dari pada arah timur “ Dan pada riwayat Muslim dan Ahmad : “ Lebih jauh melebihi jarak antara timur dan barat “Dan juga pada riwayat Ahmad : “ Sesungguhnya seseorang akan berbicara dengan suatu ucapan untuk membuat orang-orang yang duduk menyertainya tertawa, maka dia dicampakkan melebihi jauhnya bintang tsurayya
Dan sebagaimana suatu kalimat akan dapat menjadi penyebab kemurkaan Allah, juga suatu kalimat dapat menjadi sebab pengangkatan derajat dan kebahagiaan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Sesunguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimat dari keridhaan Allah dimana dia sama sekali tidak memperhatikannya, maka Allah mengangkatnya beberapa derajatkarena kalimat tersebut. Dan sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimatdari kemurkaan Allah yang dia sama sekali tidak menyadarinya, hingga dia dicampakkan ke neraka jahannam Dan pada pertanyaan Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang akan memasukkan kedalam surga dan menjauhkan dari api neraka, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan rukun-rukun Islam, dan beberapa pintu kebaikan. Kemudian beliau bersabda:
“ Maukah saya beritahukan kepadamu yang mengumpulkan semuanya itu ? Beliau menjawab : Tentulah wahai Nabi Allah.
Maka beliau lantas mengeluarkan lidahnya dan mengatakan: Jagala ini.
Saya berkata : Wahai Nabi Allah, akankah kami disiksa karena apa yang kami ucapkan ?
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Celakalah engkau wahai Mu’adz. Apakah kaum manusia akan ditelungkupkan wajah-wajah mereka kedalam api neraka atau kerongkongan mereka kecuali karena hasil dari lisan mereka ? Bahkan perkara ini tidak hanya sebatas ini saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan jaminan surga bagi yang menjaga lisannya dan juga kemaluannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga Jadi wajib bagi seorang muslim untuk menjaga lisan dan kemaluannya dari hal-hal yang Allah haramkan, untuk mengharapkan keridhaan-Nya, dan berharap meraih ganjaran pahala dari-Nya. Dan hal itu suatu yang mudah bagi yang Allah mudahkan baginya.
Faedah : Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu [ Hammad bin Zaid mengatakan ] Saya tidak mengetahui kecuali hadits ini beliau riwayatkan secara marfu’ , beliau berkata : “ Apabila bani Adam bangun pada pagi hari, maka seluruh anggota tubuhnya menegur lisan, dan mengatakan : Takwalah engaku kepada Allah, karena apabila engkau lurus maka kamipun akan lurus, dan apabila engkau menyimpang maka kamipun akan menyimpang “Dan sabda beliau: “ Anggota tubuhnya menegur lisannya”, maknanya bahwa seluruh anggota tubuhnya tunduk dan merendah dihadapan lisan, taat kepadanya. Apabila engkau wahai lisan, lurus maka kamipun kaan lurus, dan apabila engkau menyelisihi dan menyimpang dari jalan yang lurus, maka kami akan mengikutimu, maka bertakwlaah engkau kepada Allah bagi kami Dan hadits ini tidaklah kontradiktif dengan saba beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam - dari hadits An-Nu’man bin Basyir – : “ Ketahuilah bahwa pada jasad seseorang erdapat segumpal daging, apabila daging tersebut baik, maka seluruh jasad akan menjadi baik, dan apabila segumpal daging tersebut rusak maka akan rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati At-Thibi mengatakan: Lisan merupaka penerjemah hati dan penggantinya pada bagian zhahir tubuh. Apabila suatu perkara disandarkan kepadanya maka itu berupa majaz dalam hukum. Seperti perkataan anda : Dokter menyembuhka seorang yang sakit. Al-Maidani mengatakan tentang sabda beliau : Seseorang bergantung dengan dua hal yang kecil pada dirinya, kedua hal tersebut adalah hati dan lisan. Maknanya seseorang akan benar dan menjadi sempurna kepribadiannya dengan dua hal tersebut.
Zuhair menggubah sebuah sya’ir:
Dan selamanya anda akan menyaksikan seorang yang diam akan kagum
Bertmabah dan berkurangnya dia pada ucapannya
Lisan seorang setengah dan setengah lagi hati sanubarinya
Maka tidak lagi tersisa selain bentuk daging dan darah.
2. Ucapkan perkataan yang baik atau diamlah
Adab Nabawi pada perkataan bagi orang-orang yang ingin berbicara supaya berbicara dengan pelan dan memikirkan perkataannya yang ingin dia katakan dengannya, jika perkataan itu baik maka bagus untuk dikatakan dan hendaklah dia mengatakannya, jika perkataan itu buruk maka hendaklah dia berhenti darinya maka hal itu baik bagi dirinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam”. Sabda beliau : “hendaklah dia berkata yang baik atau diam”. Berkata Ibnu Hajar : “ Perkataan ini adalah Jawami’ul kalam dikarenakan semua perkataan bisa dia berupa kebaikan, bisa berupa keburukan dan bisa juga bermuara kepada salah satu dari keduanya. Termasuk dalam cakupan kebaikan semua yang dituntut dari perkataan-perkataan yang wajib ataupun yang sunnah, diperbolehkan padanya tentang perbedaan jenisnya, dan masuk padanya segala perkataan yang bermuara kepadanya. Adapun selainnya maka hal tersebut adalah keburukan atau yang bermuara kepada hal yang buruk, maka disaat hendak memperdebatkannya diperintahkan untuk berdiam diri ”.
3. Kalimat yang baik adalah shadaqah
Hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang telah lalu pembahasannya menunjukkan kepada kita bahwa seseorang diperintahkan untuk bicara yang baik-baik atau diam, kemudian syariat menyukai dalam berbicara yang baik dikarenakan padanya ada dzikir kepada Allah, kebaikan pada agama dan dunia mereka, dan kebaikan diantara mereka… serta selainnya hal-hal tersebut dari tinjauan yang bermanfaat. Ganjaran yang diberikan atas hal itu adalah mendapatkan pahala. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Setiap ruas dari manusia atasnya terdapat shadaqah, setiap hari yang terbit padanya matahari : dengan dia berbuat adil diantara dua orang adalah shadaqah, seorang lelaki pada peliharaannya dan membawakannya atau mengangkatkan barangnya adalah shadaqah, kalimat yang baik adalah shadaqah, dan setiap langkah yang dia langkahkan untuk shalat adalah shadaqah, serta menyingkirkan gangguan dari jalan adalah shadaqah”. Terkadang suatu kalimat yang baik akan menjauhkan pembicaranya dari api neraka. Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut perihal api neraka neraka lalu beliau memalingkan wajahnya dan berlindung darinya, kemudian beliau berkata : “ Takutlah bertakwalah kepada neraka walau dengan sebutir kurma, barang siapa yang tidak mendapatinya maka dengan kalimat yang baik”.
4. Keutamaan sedikit berbicara dan makruhnya banyak berbicara
Telah diterangkan lebih dari sebuah hadits tentang anjuran untuk sedikit berbicara. Karena banyak berbicara dapat menjadi sebabtergelincirnya seseorang dalam dosa. Jadi seseorang yang banyak berbicara tidaklah berasa aman dari lisannya yang lepas dan kekeliruannya. Oleh karena itulah, ada anjuran untuk sedikit berbicara dan larangan banyak berbicara.
Al-Mughirah bin Syubah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda:
“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi kalian perbuatan durhaka kepada ibu, sebagai larangan yang keras. Dan mengubur hidup-hidup anak wanita, dan membenci jika kalian mengutip perkataan, banyak birtanya dan menghambur-hamburkan harta “
Sabda beliau : “ Dan membenci jika kalian mengutip perkataan “, yaitu menceburkan diri pada kabar dan cerita-cerita orang tentang keadaan dan perbuatan mereka yang tidak mendatangkan manfaat. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi Banyak berbicara adalah suatu yang tercela dalam syariat. Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesunggunya oang yang paling saya cintai diantara kalian dan yang paling dekat majlisnya kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling terpuji akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh majlisnya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak cakap, oang-orang yang memfasihkan bicaranya serta al-mutafaihiquun. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui apa itu ats-tsatsaaruun yang banyak cakap – dan juga al-mutasyaddiquun, namun apakah itu al-mutaaihiquun ? Beliau menjawab: Yakni orang-orang yang angkuh “
Faedah: Abu Hurairah berkata : “ Tidak ada kebaikan pada perkataan yang berlebihan ”. Umar bin Al-Khaththab mengatakan: “ Barang siapa yang banyak berbicara maka akan sering tergelincir “
Ibnu Al-Qasim mengatakan: “ Saya telah mendengar dari Malik, beliau berkata: “ Tidak ada kebaikan pada banyak berbicara, dan hal itu meruapkan tingkah kaum wanita dan anak-anak. Tingkah laku mereka selamanya adalah berbicara dan tidak diam …
Lainnya mengatakan:
Seseorang meninggal karena kesalahan lisannya
Dan seseorang tidaklah meningal karena kesalahan kakinya
Tergelincirnya dia dari mulutnya yang akan menghempaskan kepalanya
Sementara tergelincirnya dia dengan kakinya akan bersih perlahan-lahan
5. Peringatan akan ghibah dan an-namimah adu domba
Sangat banyak kutipan dari Al-Qur`an ataupun As-Sunnah yang menunjukkan larangan melakukan ghibah dan namimah. Dengan konsukuensi ancaman yang sangat berat. Larangan terhadap kedua perbuatan tersebut juga telah maklum adanya ditengah-tengah kaum muslimin seluruhnya. Akan tetapi, kita masih akan menjumpai sangat banyak orang yang tidak berhati-hati dalam mempergunakan lisaannya berbicara menyangkut kehormatan dan daging orang-orang. Akan tetapi inilah hiasan syaithan bagi mereka, untuk mencerai beraikan persatuan mereka dan mengobarkan kemarahan didalam hati sebagian dari mereka atas sebagian lainnya.
Sementara syariat didatangkan untuk menyatukan kalimat, menyatukan hati, berbaik sangka kepada orang lain dan mengatakan perkataan yang benar dan yang baik … Sedangkan syaithan selalu berusaha untuk mencerai beraikan persatuan, memisahkan hati sebagian orang dengan sebagian lainnya, bebruruk sangka kepada orang lain dan mengucapkan perkataann yang batil dan yang buruk.
Dari Jabir radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Saya telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang mendirikan shalat dijazirah Arab, akan tetapi syaithan tidak berputus asa untuk menghasut diantara mereka “ Makna hadits diatas : bahwa sesungguhnya syaithan telah berputus asa menggoda para penduduk jazirah Arab untuk menyembahnya, akan tetapi syaithan senantiasa berusaha menghasut mereka untuk saling bermusuhan, kebencian, peperangan, menyebar fitnah dan lain sebagainya. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi
Ghibah dan namiman adalah salah satu benih lebencian dan permusuhan yang ditanamkan diengah-tengah menusia. Dan Allah telah mengabarkan perihal syaithan bahwa dia adalah musuh kita. Dan seorang musuh tidak akan emnghendaki kebaikan pada diri kita – dan hal itu tidak kita sangsikan lagi – dan Allah telah memerintahkan kita untuk memusuhinya dan memeranginya
“ Sesunggunya syaithan adala musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya syaithan akan mengajak kepada golongannya agar mereka semuatermasuk penghuni neraka sa’iir “ (Fathir : 6)
Ghibah dan namimah, termasuk salah satu senjata Iblis dan kelompoknya, untuk mencerai beraikan kaum manusia. Menanamkan kebencian dihati sbeagian kaum manusia kepada sebagian lainnya. Dan kedua hal tersebut termasuk diantara penyakit yang akan membinasakan individu serta mencerai beraikan jama’ah.
Penyakit tersebut akan menyebabkan indibidu masyarakan berada dalam bahaya dengan mendapatkan ancaman Allah akibat orang yan dighibahinya atau namimah yang diucapkannya. Dan penyakit ini akan menimbulkan pemutusan silaturrahim antara sesama keluarga dan kerabat dan sesama kaum manusia.
Ada baiknya kita akan sebutkan sebagian yang berkaitan dengan kedua hal tersebut. Dan seorang yang mendapatkan taufik adalah yng menundukkan hatinya kepada kebenaran sertamenjaga lisannya terhadap makhluk Allah.
Allah ta’ala berfirman
“ Dan janganlah sebagian dari kalian menghibah sebagian lainnya. Apakah salah seorang diantara kalian akan memakan daging bangkai saudaranya, maka kalian tentunya merasa jijik. Maka bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih “ (Al-Hujurat : 12 )
Dan dari hadits Abu Barzah Al-Aslami, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Wahai segenap orang yang merasa amandenganlisannya namun belumlah iman masuk kedalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari aurat mereka. Karena sesungguhnya seseorang yang mencari-cari aurat mereka maka Allah akan mencari-cari auratnya. Dan barang siapa yang Alah mencari-cari auratnya niscaya Allah akan mempermalukannya dirumahnya “[22]
Dari Abu Wail dari Hudzaifah beliau menyampaikan bahwa seseorang menyampaikan berita untuk tujuan namimah. Maka Hudzaifah mengatakan: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidak akan masuk surga seseorang yang melakukan namimah “, pada riwayat lainnya : “ pengadu domba “ Dan keduanya semakna.
Faedah : Ghibah diperbolehkan pada enam tempat :
Pertama : Ketidak adilan, maka diperbolehkan bagi yang didhalimi untuk mengadukan ketidak adilan yang dia alami kepada penguasa atau halim dan selain keduanya yang mana padanya punya pemerintahan, atau berkehendak untuk berlaku adil pada orang yang mendhaliminya.
Kedua : Meminta pertolongan agar merubah kemungkaran, dan mengembalikan kemaksiatan kepada kebenaran. Hendaklah dia berkata kepada orang yang dia harapkan kekuasaannya uantuk menghilangkan kemungkaran dengan : Si fulan berbuat demikian, maka diapun mengasingkannya darinya dan sejenisnya, dengan maksud sebagai perantara untuk menghilangkan kemungkaran, akan tetapi kalau maksudnya tidak demikian maka hal itu adalah keharaman.
Ketiga : Meredakan masalah, maka dia berkata kepada mufti / yang memberi fatwa : Ayahku telah mendhalimiku , atau saudaraku…dan semisal hal tersebut, maka hal ini diperbolehkan sesuai keperluan, akan agar lebih berhati-hati agar dia berkata : Apakah engkau mengatakan kepada laki-laki atau seseorang siapa saja yang menyuruhnya berbuat demikian? Yang mana dia akan tercapai dengannya tujuan tanpa adanya ketentuan yang pasti, dengan demikian maka penentuan tersebut diperbolehkan.
Keempat : Peringatan kepada kaum muslimin dari kejelekan dan menasehati mereka … termasuk pula men-jarh kaum yang cacat sifatnya baik para perawi hadits atukah para saksi. Diantaranya pula musyawarah untuk menjalin kekerabatan dengan seseorang … dengan syarat tujuan dari itu smeua adalah untuk nasihat. Dan hal ini yang sering terjadi kesalah pahaman. Seorang pembcara terkadang terbawa rasa dengki pada hal-hal itu, dan syaithan mengaburkannya. Dan syaithan menampakkan seolah-olah hal tersebut suatu nasihat, maka mestilah hal itu lebih dicermati.
Kelima : Apabila yang dibicarakan adalah seseorang yang menampakkan perbuatan fasiknya atau bid’ahnya seperti seseorang yang terang-terangan meminum khamar, menyakiti orang banyak, memungut rente, mengambil pajak dari harta orang, melakukan perkara-perkara yang batil maka diperbolehkan untuk menyebutkan karena perbuatan yang dilakukannya terang-terangan. Namun haram menyebut aib-aibnya yang lain kecuali karena lain sebab yang diperbolehkan sebagaimana yang telah kami sebutkan.
Keenam : Untuk tujuan identifikasi. Apabila seseorang lebih terkenal dengan suatu julukan, seperti Al-A’masy – yang penglihatannya kabur – , Al-A’raj – yang pincang kakinya -, Al-Asham – yang tuli -, Al-A’maa – yang buta -, Al-Ahwal – yang matanya juling – dan lain sebagainya. Diperbolehkan mengidentifikasi mereka dengan julukan itu. Dan diharamkan penggunaan julukan itu secara mutlak untuk tujuan penghinaan. Dan sekiranya memungkinkan mengidentifikasinya selain dengan julukan itu, hal tersebut lebih utama.
Inilah enam perkara yangdisebutkan oleh par aulama, dan sebagian besarnya adalah perkara-perkara yang disepakati oleh mereka. Dan argumentasinya berupa hadits-hadits yang shahih sangatlah populer, demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi
Faedah lainnya : Tindakan yang sepatutnya bagi seseorang yang mengetahui namimah :
Pertama : Tidaklah membenarkannya karena seorang pembawa namimah adalah seorang yang fasik.
Kedua : Melarangnya dari perbuatan itu dan menasihatinya dan mencela perbuatan yang dilakukannya tersebut.
Ketiga : Membencinnya karena Allah, disebabkan pelaku perbuatan namimah adalah perbuatan yang dibenci Allah t’ala. Dan wajib membenci seseorang yang Allah benci.
Keempat : Tidak berprasangka buruk terhadap saudaranya yang tidak berada dihadapannya.
Kelima : Segala cerita yang sampai kepadanya tidak mendorongnya untuk mencari-cari dan menilik informasi tentang kabar itu.
Keenam : Tidak meridhai bagi dirinya sendiri apa yang dilarangnya bagi pelaku namimah. Tidaklah dia menceritakan suatu namimah darinya dengan mengatakan : Fulan menceritakan demikian, hingga diapun menjadi pelaku namimah. Dengan begitu dia melakukan suatu yang dia telah larang.
Inilah akhir perkataan Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah. Semua yang berkaitan dengan namimah ini apabila tidak terdapat mashlaha syar’iyah. Namun apabila suatu kebutuhan mengharuskan hal tersebut, maka tidaklah mengapa untuk disampaikan. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi
Adab-Adab Berbicara
Allah ta’ala berfirman :
“ Dan janganlah kalianmengikuti apa-apa yang kalian tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggung jawabannya “ (Al-Israa` : 36 )
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga “Di antara adab-adab berbicara :
1. Menjaga Lisan
Yang sepatutnya bagi seorang muslim adalah memperhatikan lisannya dengan baik. Menghindari perkataan yang batil, perkataan dusta, ghibah, adu domba, perkataan yang keji, secara ringkas dari semua itu adalah menjaga lisannya dari segala yang Allah dan Rasul-Nya haramkan.
Seseorang mungkin mengucapkan suatu kalimat yang akan mencelakakan kehidupan dunianya dan juga akhiratnya. Dan bisa pula mengucapkan suatu kalimat dimana dengan kalimat tersebut Allah akan mengangkatnya beberapa derajatnya. Yang menunjukkan hal itu adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“ Sesungguhnya seorang hamba akan berbicara dengan suatu ucapan yang sama sekali dia memperoleh kejelasannya,maka diapun dijerumuskan diapi neraka lebih jauh dari pada arah timur “ Dan pada riwayat Muslim dan Ahmad : “ Lebih jauh melebihi jarak antara timur dan barat “Dan juga pada riwayat Ahmad : “ Sesungguhnya seseorang akan berbicara dengan suatu ucapan untuk membuat orang-orang yang duduk menyertainya tertawa, maka dia dicampakkan melebihi jauhnya bintang tsurayya
Dan sebagaimana suatu kalimat akan dapat menjadi penyebab kemurkaan Allah, juga suatu kalimat dapat menjadi sebab pengangkatan derajat dan kebahagiaan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Sesunguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimat dari keridhaan Allah dimana dia sama sekali tidak memperhatikannya, maka Allah mengangkatnya beberapa derajatkarena kalimat tersebut. Dan sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimatdari kemurkaan Allah yang dia sama sekali tidak menyadarinya, hingga dia dicampakkan ke neraka jahannam Dan pada pertanyaan Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang akan memasukkan kedalam surga dan menjauhkan dari api neraka, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan rukun-rukun Islam, dan beberapa pintu kebaikan. Kemudian beliau bersabda:
“ Maukah saya beritahukan kepadamu yang mengumpulkan semuanya itu ? Beliau menjawab : Tentulah wahai Nabi Allah.
Maka beliau lantas mengeluarkan lidahnya dan mengatakan: Jagala ini.
Saya berkata : Wahai Nabi Allah, akankah kami disiksa karena apa yang kami ucapkan ?
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Celakalah engkau wahai Mu’adz. Apakah kaum manusia akan ditelungkupkan wajah-wajah mereka kedalam api neraka atau kerongkongan mereka kecuali karena hasil dari lisan mereka ? Bahkan perkara ini tidak hanya sebatas ini saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan jaminan surga bagi yang menjaga lisannya dan juga kemaluannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga Jadi wajib bagi seorang muslim untuk menjaga lisan dan kemaluannya dari hal-hal yang Allah haramkan, untuk mengharapkan keridhaan-Nya, dan berharap meraih ganjaran pahala dari-Nya. Dan hal itu suatu yang mudah bagi yang Allah mudahkan baginya.
Faedah : Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu [ Hammad bin Zaid mengatakan ] Saya tidak mengetahui kecuali hadits ini beliau riwayatkan secara marfu’ , beliau berkata : “ Apabila bani Adam bangun pada pagi hari, maka seluruh anggota tubuhnya menegur lisan, dan mengatakan : Takwalah engaku kepada Allah, karena apabila engkau lurus maka kamipun akan lurus, dan apabila engkau menyimpang maka kamipun akan menyimpang “Dan sabda beliau: “ Anggota tubuhnya menegur lisannya”, maknanya bahwa seluruh anggota tubuhnya tunduk dan merendah dihadapan lisan, taat kepadanya. Apabila engkau wahai lisan, lurus maka kamipun kaan lurus, dan apabila engkau menyelisihi dan menyimpang dari jalan yang lurus, maka kami akan mengikutimu, maka bertakwlaah engkau kepada Allah bagi kami Dan hadits ini tidaklah kontradiktif dengan saba beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam - dari hadits An-Nu’man bin Basyir – : “ Ketahuilah bahwa pada jasad seseorang erdapat segumpal daging, apabila daging tersebut baik, maka seluruh jasad akan menjadi baik, dan apabila segumpal daging tersebut rusak maka akan rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati At-Thibi mengatakan: Lisan merupaka penerjemah hati dan penggantinya pada bagian zhahir tubuh. Apabila suatu perkara disandarkan kepadanya maka itu berupa majaz dalam hukum. Seperti perkataan anda : Dokter menyembuhka seorang yang sakit. Al-Maidani mengatakan tentang sabda beliau : Seseorang bergantung dengan dua hal yang kecil pada dirinya, kedua hal tersebut adalah hati dan lisan. Maknanya seseorang akan benar dan menjadi sempurna kepribadiannya dengan dua hal tersebut.
Zuhair menggubah sebuah sya’ir:
Dan selamanya anda akan menyaksikan seorang yang diam akan kagum
Bertmabah dan berkurangnya dia pada ucapannya
Lisan seorang setengah dan setengah lagi hati sanubarinya
Maka tidak lagi tersisa selain bentuk daging dan darah.
2. Ucapkan perkataan yang baik atau diamlah
Adab Nabawi pada perkataan bagi orang-orang yang ingin berbicara supaya berbicara dengan pelan dan memikirkan perkataannya yang ingin dia katakan dengannya, jika perkataan itu baik maka bagus untuk dikatakan dan hendaklah dia mengatakannya, jika perkataan itu buruk maka hendaklah dia berhenti darinya maka hal itu baik bagi dirinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam”. Sabda beliau : “hendaklah dia berkata yang baik atau diam”. Berkata Ibnu Hajar : “ Perkataan ini adalah Jawami’ul kalam dikarenakan semua perkataan bisa dia berupa kebaikan, bisa berupa keburukan dan bisa juga bermuara kepada salah satu dari keduanya. Termasuk dalam cakupan kebaikan semua yang dituntut dari perkataan-perkataan yang wajib ataupun yang sunnah, diperbolehkan padanya tentang perbedaan jenisnya, dan masuk padanya segala perkataan yang bermuara kepadanya. Adapun selainnya maka hal tersebut adalah keburukan atau yang bermuara kepada hal yang buruk, maka disaat hendak memperdebatkannya diperintahkan untuk berdiam diri ”.
3. Kalimat yang baik adalah shadaqah
Hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang telah lalu pembahasannya menunjukkan kepada kita bahwa seseorang diperintahkan untuk bicara yang baik-baik atau diam, kemudian syariat menyukai dalam berbicara yang baik dikarenakan padanya ada dzikir kepada Allah, kebaikan pada agama dan dunia mereka, dan kebaikan diantara mereka… serta selainnya hal-hal tersebut dari tinjauan yang bermanfaat. Ganjaran yang diberikan atas hal itu adalah mendapatkan pahala. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Setiap ruas dari manusia atasnya terdapat shadaqah, setiap hari yang terbit padanya matahari : dengan dia berbuat adil diantara dua orang adalah shadaqah, seorang lelaki pada peliharaannya dan membawakannya atau mengangkatkan barangnya adalah shadaqah, kalimat yang baik adalah shadaqah, dan setiap langkah yang dia langkahkan untuk shalat adalah shadaqah, serta menyingkirkan gangguan dari jalan adalah shadaqah”. Terkadang suatu kalimat yang baik akan menjauhkan pembicaranya dari api neraka. Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut perihal api neraka neraka lalu beliau memalingkan wajahnya dan berlindung darinya, kemudian beliau berkata : “ Takutlah bertakwalah kepada neraka walau dengan sebutir kurma, barang siapa yang tidak mendapatinya maka dengan kalimat yang baik”.
4. Keutamaan sedikit berbicara dan makruhnya banyak berbicara
Telah diterangkan lebih dari sebuah hadits tentang anjuran untuk sedikit berbicara. Karena banyak berbicara dapat menjadi sebabtergelincirnya seseorang dalam dosa. Jadi seseorang yang banyak berbicara tidaklah berasa aman dari lisannya yang lepas dan kekeliruannya. Oleh karena itulah, ada anjuran untuk sedikit berbicara dan larangan banyak berbicara.
Al-Mughirah bin Syubah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda:
“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi kalian perbuatan durhaka kepada ibu, sebagai larangan yang keras. Dan mengubur hidup-hidup anak wanita, dan membenci jika kalian mengutip perkataan, banyak birtanya dan menghambur-hamburkan harta “
Sabda beliau : “ Dan membenci jika kalian mengutip perkataan “, yaitu menceburkan diri pada kabar dan cerita-cerita orang tentang keadaan dan perbuatan mereka yang tidak mendatangkan manfaat. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi Banyak berbicara adalah suatu yang tercela dalam syariat. Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesunggunya oang yang paling saya cintai diantara kalian dan yang paling dekat majlisnya kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling terpuji akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh majlisnya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak cakap, oang-orang yang memfasihkan bicaranya serta al-mutafaihiquun. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui apa itu ats-tsatsaaruun yang banyak cakap – dan juga al-mutasyaddiquun, namun apakah itu al-mutaaihiquun ? Beliau menjawab: Yakni orang-orang yang angkuh “
Faedah: Abu Hurairah berkata : “ Tidak ada kebaikan pada perkataan yang berlebihan ”. Umar bin Al-Khaththab mengatakan: “ Barang siapa yang banyak berbicara maka akan sering tergelincir “
Ibnu Al-Qasim mengatakan: “ Saya telah mendengar dari Malik, beliau berkata: “ Tidak ada kebaikan pada banyak berbicara, dan hal itu meruapkan tingkah kaum wanita dan anak-anak. Tingkah laku mereka selamanya adalah berbicara dan tidak diam …
Lainnya mengatakan:
Seseorang meninggal karena kesalahan lisannya
Dan seseorang tidaklah meningal karena kesalahan kakinya
Tergelincirnya dia dari mulutnya yang akan menghempaskan kepalanya
Sementara tergelincirnya dia dengan kakinya akan bersih perlahan-lahan
5. Peringatan akan ghibah dan an-namimah adu domba
Sangat banyak kutipan dari Al-Qur`an ataupun As-Sunnah yang menunjukkan larangan melakukan ghibah dan namimah. Dengan konsukuensi ancaman yang sangat berat. Larangan terhadap kedua perbuatan tersebut juga telah maklum adanya ditengah-tengah kaum muslimin seluruhnya. Akan tetapi, kita masih akan menjumpai sangat banyak orang yang tidak berhati-hati dalam mempergunakan lisaannya berbicara menyangkut kehormatan dan daging orang-orang. Akan tetapi inilah hiasan syaithan bagi mereka, untuk mencerai beraikan persatuan mereka dan mengobarkan kemarahan didalam hati sebagian dari mereka atas sebagian lainnya.
Sementara syariat didatangkan untuk menyatukan kalimat, menyatukan hati, berbaik sangka kepada orang lain dan mengatakan perkataan yang benar dan yang baik … Sedangkan syaithan selalu berusaha untuk mencerai beraikan persatuan, memisahkan hati sebagian orang dengan sebagian lainnya, bebruruk sangka kepada orang lain dan mengucapkan perkataann yang batil dan yang buruk.
Dari Jabir radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Saya telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang mendirikan shalat dijazirah Arab, akan tetapi syaithan tidak berputus asa untuk menghasut diantara mereka “ Makna hadits diatas : bahwa sesungguhnya syaithan telah berputus asa menggoda para penduduk jazirah Arab untuk menyembahnya, akan tetapi syaithan senantiasa berusaha menghasut mereka untuk saling bermusuhan, kebencian, peperangan, menyebar fitnah dan lain sebagainya. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi
Ghibah dan namiman adalah salah satu benih lebencian dan permusuhan yang ditanamkan diengah-tengah menusia. Dan Allah telah mengabarkan perihal syaithan bahwa dia adalah musuh kita. Dan seorang musuh tidak akan emnghendaki kebaikan pada diri kita – dan hal itu tidak kita sangsikan lagi – dan Allah telah memerintahkan kita untuk memusuhinya dan memeranginya
“ Sesunggunya syaithan adala musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya syaithan akan mengajak kepada golongannya agar mereka semuatermasuk penghuni neraka sa’iir “ (Fathir : 6)
Ghibah dan namimah, termasuk salah satu senjata Iblis dan kelompoknya, untuk mencerai beraikan kaum manusia. Menanamkan kebencian dihati sbeagian kaum manusia kepada sebagian lainnya. Dan kedua hal tersebut termasuk diantara penyakit yang akan membinasakan individu serta mencerai beraikan jama’ah.
Penyakit tersebut akan menyebabkan indibidu masyarakan berada dalam bahaya dengan mendapatkan ancaman Allah akibat orang yan dighibahinya atau namimah yang diucapkannya. Dan penyakit ini akan menimbulkan pemutusan silaturrahim antara sesama keluarga dan kerabat dan sesama kaum manusia.
Ada baiknya kita akan sebutkan sebagian yang berkaitan dengan kedua hal tersebut. Dan seorang yang mendapatkan taufik adalah yng menundukkan hatinya kepada kebenaran sertamenjaga lisannya terhadap makhluk Allah.
Allah ta’ala berfirman
“ Dan janganlah sebagian dari kalian menghibah sebagian lainnya. Apakah salah seorang diantara kalian akan memakan daging bangkai saudaranya, maka kalian tentunya merasa jijik. Maka bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih “ (Al-Hujurat : 12 )
Dan dari hadits Abu Barzah Al-Aslami, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Wahai segenap orang yang merasa amandenganlisannya namun belumlah iman masuk kedalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari aurat mereka. Karena sesungguhnya seseorang yang mencari-cari aurat mereka maka Allah akan mencari-cari auratnya. Dan barang siapa yang Alah mencari-cari auratnya niscaya Allah akan mempermalukannya dirumahnya “[22]
Dari Abu Wail dari Hudzaifah beliau menyampaikan bahwa seseorang menyampaikan berita untuk tujuan namimah. Maka Hudzaifah mengatakan: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidak akan masuk surga seseorang yang melakukan namimah “, pada riwayat lainnya : “ pengadu domba “ Dan keduanya semakna.
Faedah : Ghibah diperbolehkan pada enam tempat :
Pertama : Ketidak adilan, maka diperbolehkan bagi yang didhalimi untuk mengadukan ketidak adilan yang dia alami kepada penguasa atau halim dan selain keduanya yang mana padanya punya pemerintahan, atau berkehendak untuk berlaku adil pada orang yang mendhaliminya.
Kedua : Meminta pertolongan agar merubah kemungkaran, dan mengembalikan kemaksiatan kepada kebenaran. Hendaklah dia berkata kepada orang yang dia harapkan kekuasaannya uantuk menghilangkan kemungkaran dengan : Si fulan berbuat demikian, maka diapun mengasingkannya darinya dan sejenisnya, dengan maksud sebagai perantara untuk menghilangkan kemungkaran, akan tetapi kalau maksudnya tidak demikian maka hal itu adalah keharaman.
Ketiga : Meredakan masalah, maka dia berkata kepada mufti / yang memberi fatwa : Ayahku telah mendhalimiku , atau saudaraku…dan semisal hal tersebut, maka hal ini diperbolehkan sesuai keperluan, akan agar lebih berhati-hati agar dia berkata : Apakah engkau mengatakan kepada laki-laki atau seseorang siapa saja yang menyuruhnya berbuat demikian? Yang mana dia akan tercapai dengannya tujuan tanpa adanya ketentuan yang pasti, dengan demikian maka penentuan tersebut diperbolehkan.
Keempat : Peringatan kepada kaum muslimin dari kejelekan dan menasehati mereka … termasuk pula men-jarh kaum yang cacat sifatnya baik para perawi hadits atukah para saksi. Diantaranya pula musyawarah untuk menjalin kekerabatan dengan seseorang … dengan syarat tujuan dari itu smeua adalah untuk nasihat. Dan hal ini yang sering terjadi kesalah pahaman. Seorang pembcara terkadang terbawa rasa dengki pada hal-hal itu, dan syaithan mengaburkannya. Dan syaithan menampakkan seolah-olah hal tersebut suatu nasihat, maka mestilah hal itu lebih dicermati.
Kelima : Apabila yang dibicarakan adalah seseorang yang menampakkan perbuatan fasiknya atau bid’ahnya seperti seseorang yang terang-terangan meminum khamar, menyakiti orang banyak, memungut rente, mengambil pajak dari harta orang, melakukan perkara-perkara yang batil maka diperbolehkan untuk menyebutkan karena perbuatan yang dilakukannya terang-terangan. Namun haram menyebut aib-aibnya yang lain kecuali karena lain sebab yang diperbolehkan sebagaimana yang telah kami sebutkan.
Keenam : Untuk tujuan identifikasi. Apabila seseorang lebih terkenal dengan suatu julukan, seperti Al-A’masy – yang penglihatannya kabur – , Al-A’raj – yang pincang kakinya -, Al-Asham – yang tuli -, Al-A’maa – yang buta -, Al-Ahwal – yang matanya juling – dan lain sebagainya. Diperbolehkan mengidentifikasi mereka dengan julukan itu. Dan diharamkan penggunaan julukan itu secara mutlak untuk tujuan penghinaan. Dan sekiranya memungkinkan mengidentifikasinya selain dengan julukan itu, hal tersebut lebih utama.
Inilah enam perkara yangdisebutkan oleh par aulama, dan sebagian besarnya adalah perkara-perkara yang disepakati oleh mereka. Dan argumentasinya berupa hadits-hadits yang shahih sangatlah populer, demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi
Faedah lainnya : Tindakan yang sepatutnya bagi seseorang yang mengetahui namimah :
Pertama : Tidaklah membenarkannya karena seorang pembawa namimah adalah seorang yang fasik.
Kedua : Melarangnya dari perbuatan itu dan menasihatinya dan mencela perbuatan yang dilakukannya tersebut.
Ketiga : Membencinnya karena Allah, disebabkan pelaku perbuatan namimah adalah perbuatan yang dibenci Allah t’ala. Dan wajib membenci seseorang yang Allah benci.
Keempat : Tidak berprasangka buruk terhadap saudaranya yang tidak berada dihadapannya.
Kelima : Segala cerita yang sampai kepadanya tidak mendorongnya untuk mencari-cari dan menilik informasi tentang kabar itu.
Keenam : Tidak meridhai bagi dirinya sendiri apa yang dilarangnya bagi pelaku namimah. Tidaklah dia menceritakan suatu namimah darinya dengan mengatakan : Fulan menceritakan demikian, hingga diapun menjadi pelaku namimah. Dengan begitu dia melakukan suatu yang dia telah larang.
Inilah akhir perkataan Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah. Semua yang berkaitan dengan namimah ini apabila tidak terdapat mashlaha syar’iyah. Namun apabila suatu kebutuhan mengharuskan hal tersebut, maka tidaklah mengapa untuk disampaikan. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi
Berguru
kls 2
Alkisah, Nabi Musa sedang memberikan pembekalan-pembekalan pada para muridnya. Tiba-tiba salah satu muridnya bertanya, siapakah MANUSIA paling DALAM ILMUNYA. Tentu saja dengan serta merta Nabi Musa menjawab “AKU”.
Jawaban beliau ternyata tidak berkenan di hadirat Alloh SWT. Nabi Musa pun ditegur atas jawaban tersebut karena menandakan kesombongan dan ketidaksadaran kerendahan dirinya dihadapan-Nya.
Oleh Alloh SWT kemudian beliau diperintahkan untuk bertemu dengan orang yang menurut-Nya memiliki kedalaman ilmu yang lebih dibandingkan Nabi Musa, yaitu Nabi Khidr. Maka atas perintah tersebut Nabi Musa berangkat menemuinya.
Setelah bertemu, Nabi Khidr setuju untuk menerima Nabi Musa belajar padanya. Tapi sebagai ujian sebelum secara resmi akan mengajari beliau, Nabi Khidr memberikan syarat selama masa perjalanan ujian tersebut Nabi Musa dilarang bertanya sampai tiga kali atas apa yang kemungkinan akan dilakukan oleh Nabi Khidr.
Nabi Musa pun setuju atas syarat dan kondisi tersebut. Maka mulailah perjalanan mereka untuk menguji layak atau tidakkah Nabi Khidr mengangkat Nabi Musa sebagai murid.
Seperti kita ketahui, ternyata Nabi Musa gagal menjadi murid Nabi Khidr karena tidak dapat menjalani syarat tersebut.
Banyak hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah yang fenomenal ini. Fenomenal karena hanya ini satu-satunya kisah seorang nabi masih harus disuruh belajar lagi kepada nabi yang lain oleh Alloh SWT.
Banyak hikmah yang bisa kita renungkan dari kisah ini, diantaranya adalah:
1. Kesabaran
Pada saat Nabi Khidr memberikan syarat kepada Nabi Musa untuk tidak bertanya lebih dari tiga kali atas apa yang beliau lakukan hingga nanti diberi penjelasan adalah pelajaran penting tentang nilai kesabaran dalam belajar.
Proses belajar yang baik berawal dari kesadaran bahwa sang murid menyadari ada sesuatu yang tidak dia ketahui dan harus dipelajari. Berangkat dari kesadaran tersebut sang murid harus mulai melakukan pengkajian terhadap apa yang ingin dia pelajari.
Kegiatan ini dapat diibaratkan seperti menyiramkan air pada tanaman yang sedang kita tanam dan tumbuh-kembangkan. Jika tergesa-gesa dan terlalu banyak menyiram, air akan menggenang hingga akan membusukkan akarnya. Tentunya hal tersebut akan menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.
2. Kerendahatian
Alloh SWT pada saat memerintahkan Nabi Musa untuk belajar lebih mendalam memiliki tujuan untuk mengajarkan sikap rendah hati (tawadhu) kepada beliau.
Sikap rendah hati akan memberikan dampak kesadaran pada kita untuk terus-menerus mengembangkan ilmu, wawasan dan kearifan kita. Kita akan terus-menerus belajar dan mengembangkan etos pembelajar yang efektif.
Etos pembelajar yang efektif ini akan memberikan dukungan pada diri kita untuk mempelajari apa yang harus dipelajari. Memaknai apa yang dipahami dan memperdalam kebijaksanaan diri secara arif atas apa yang ada di sekitar kita.
3. Kepercayaan dan Ketaatan
Pada saat Nabi Khidr memberikan syarat untuk tidak bertanya lebih dari tiga kali kepada Nabi Musa, beliau berusaha menanamkan rasa percaya dan ketaatan kepadanya sebagai sang guru.
Disini dapat dilihat bahwa untuk mencapai proses belajar dan mengajar yang seimbang, sang guru dan sang murid harus mengembangkan rasa percaya dan taat yang seimbang.
Hal ini dapat memberikan hikmah kepada kita bahwa pada saat mengajarkan sesuatu maka harus dapat dipercaya kualitas keilmuannya. Kita sering tidak menyadari betapa besar dampak yang bisa kita timbulkan dari apa yang diajarkan kepada orang lain, baik itu positif maupun negatif.
Sang murid yang sedang belajar pun harus memiliki kepercayaan kepada apa yang disampaikan oleh sang guru. Kepercayaan itu tentunya harus dibarengi dengan ketaatan atas aturan-aturan yang ditetapkannya.
Tentunya sang guru dengan kedalaman ilmu, wawasan dan kearifannya memiliki pandangan-pandangan yang belum terlihat oleh keterbatasan pemahaman yang kita miliki sehingga menetapkan aturan-aturan yang secara mendasar sebenarnya memberikan tuntunan kepada sang murid.
4. Kearifan
Pada saat Alloh SWT memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada Nabi Khidr, Dia memberikan beberapa petunjuk tentang tempat dan waktu untuk bertemu serta ciri-ciri calon gurunya tersebut.
Disini kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam memilih guru dan mempelajari sesuatu harus dilakukan dengan kearifan. Kearifan ini akan menolong kita dari kemungkinan salah memilih guru atau mempelajari sesuatu yang sia-sia.
Karena itu dalam proses memilih sang guru dan ilmu yang ingin dipelajari harus melakukan telaahan yang mendalam atas kualitas dan nama baiknya.
5. Kejujuran dan Tanggung Jawab
Nabi Musa secara jujur mengakui kedangkalan ilmunya dibandingkan dengan Nabi Khidr pada saat diberi penjelasan atas tiga hal kontroversial (menurut Nabi Musa) yang dilakukan oleh calon gurunya itu.
Di sisi lain beliau pun bertanggung jawab atas akibat dari dilanggarnya syarat untuk menjadi murid Nabi Khidr yang berakibat ditolaknya beliau menjadi murid.
Dari sisi ini kita dapat mengambil pelajaran atas kejujuran dan tanggung jawab dalam proses belajar.
Secara jujur kita mengakui telah melakukan kesalahan hingga kemudian melakukan penerimaan serta perbaikan atasnya.
“Sesungguhnya setiap manusia adalah dalam keadaan yang merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh dan saling mengingatkan dalam kebenaran serta kesabaran”
Alkisah, Nabi Musa sedang memberikan pembekalan-pembekalan pada para muridnya. Tiba-tiba salah satu muridnya bertanya, siapakah MANUSIA paling DALAM ILMUNYA. Tentu saja dengan serta merta Nabi Musa menjawab “AKU”.
Jawaban beliau ternyata tidak berkenan di hadirat Alloh SWT. Nabi Musa pun ditegur atas jawaban tersebut karena menandakan kesombongan dan ketidaksadaran kerendahan dirinya dihadapan-Nya.
Oleh Alloh SWT kemudian beliau diperintahkan untuk bertemu dengan orang yang menurut-Nya memiliki kedalaman ilmu yang lebih dibandingkan Nabi Musa, yaitu Nabi Khidr. Maka atas perintah tersebut Nabi Musa berangkat menemuinya.
Setelah bertemu, Nabi Khidr setuju untuk menerima Nabi Musa belajar padanya. Tapi sebagai ujian sebelum secara resmi akan mengajari beliau, Nabi Khidr memberikan syarat selama masa perjalanan ujian tersebut Nabi Musa dilarang bertanya sampai tiga kali atas apa yang kemungkinan akan dilakukan oleh Nabi Khidr.
Nabi Musa pun setuju atas syarat dan kondisi tersebut. Maka mulailah perjalanan mereka untuk menguji layak atau tidakkah Nabi Khidr mengangkat Nabi Musa sebagai murid.
Seperti kita ketahui, ternyata Nabi Musa gagal menjadi murid Nabi Khidr karena tidak dapat menjalani syarat tersebut.
Banyak hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah yang fenomenal ini. Fenomenal karena hanya ini satu-satunya kisah seorang nabi masih harus disuruh belajar lagi kepada nabi yang lain oleh Alloh SWT.
Banyak hikmah yang bisa kita renungkan dari kisah ini, diantaranya adalah:
1. Kesabaran
Pada saat Nabi Khidr memberikan syarat kepada Nabi Musa untuk tidak bertanya lebih dari tiga kali atas apa yang beliau lakukan hingga nanti diberi penjelasan adalah pelajaran penting tentang nilai kesabaran dalam belajar.
Proses belajar yang baik berawal dari kesadaran bahwa sang murid menyadari ada sesuatu yang tidak dia ketahui dan harus dipelajari. Berangkat dari kesadaran tersebut sang murid harus mulai melakukan pengkajian terhadap apa yang ingin dia pelajari.
Kegiatan ini dapat diibaratkan seperti menyiramkan air pada tanaman yang sedang kita tanam dan tumbuh-kembangkan. Jika tergesa-gesa dan terlalu banyak menyiram, air akan menggenang hingga akan membusukkan akarnya. Tentunya hal tersebut akan menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.
2. Kerendahatian
Alloh SWT pada saat memerintahkan Nabi Musa untuk belajar lebih mendalam memiliki tujuan untuk mengajarkan sikap rendah hati (tawadhu) kepada beliau.
Sikap rendah hati akan memberikan dampak kesadaran pada kita untuk terus-menerus mengembangkan ilmu, wawasan dan kearifan kita. Kita akan terus-menerus belajar dan mengembangkan etos pembelajar yang efektif.
Etos pembelajar yang efektif ini akan memberikan dukungan pada diri kita untuk mempelajari apa yang harus dipelajari. Memaknai apa yang dipahami dan memperdalam kebijaksanaan diri secara arif atas apa yang ada di sekitar kita.
3. Kepercayaan dan Ketaatan
Pada saat Nabi Khidr memberikan syarat untuk tidak bertanya lebih dari tiga kali kepada Nabi Musa, beliau berusaha menanamkan rasa percaya dan ketaatan kepadanya sebagai sang guru.
Disini dapat dilihat bahwa untuk mencapai proses belajar dan mengajar yang seimbang, sang guru dan sang murid harus mengembangkan rasa percaya dan taat yang seimbang.
Hal ini dapat memberikan hikmah kepada kita bahwa pada saat mengajarkan sesuatu maka harus dapat dipercaya kualitas keilmuannya. Kita sering tidak menyadari betapa besar dampak yang bisa kita timbulkan dari apa yang diajarkan kepada orang lain, baik itu positif maupun negatif.
Sang murid yang sedang belajar pun harus memiliki kepercayaan kepada apa yang disampaikan oleh sang guru. Kepercayaan itu tentunya harus dibarengi dengan ketaatan atas aturan-aturan yang ditetapkannya.
Tentunya sang guru dengan kedalaman ilmu, wawasan dan kearifannya memiliki pandangan-pandangan yang belum terlihat oleh keterbatasan pemahaman yang kita miliki sehingga menetapkan aturan-aturan yang secara mendasar sebenarnya memberikan tuntunan kepada sang murid.
4. Kearifan
Pada saat Alloh SWT memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada Nabi Khidr, Dia memberikan beberapa petunjuk tentang tempat dan waktu untuk bertemu serta ciri-ciri calon gurunya tersebut.
Disini kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam memilih guru dan mempelajari sesuatu harus dilakukan dengan kearifan. Kearifan ini akan menolong kita dari kemungkinan salah memilih guru atau mempelajari sesuatu yang sia-sia.
Karena itu dalam proses memilih sang guru dan ilmu yang ingin dipelajari harus melakukan telaahan yang mendalam atas kualitas dan nama baiknya.
5. Kejujuran dan Tanggung Jawab
Nabi Musa secara jujur mengakui kedangkalan ilmunya dibandingkan dengan Nabi Khidr pada saat diberi penjelasan atas tiga hal kontroversial (menurut Nabi Musa) yang dilakukan oleh calon gurunya itu.
Di sisi lain beliau pun bertanggung jawab atas akibat dari dilanggarnya syarat untuk menjadi murid Nabi Khidr yang berakibat ditolaknya beliau menjadi murid.
Dari sisi ini kita dapat mengambil pelajaran atas kejujuran dan tanggung jawab dalam proses belajar.
Secara jujur kita mengakui telah melakukan kesalahan hingga kemudian melakukan penerimaan serta perbaikan atasnya.
“Sesungguhnya setiap manusia adalah dalam keadaan yang merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh dan saling mengingatkan dalam kebenaran serta kesabaran”
Berpakaian
Kelas 2
ADAB DAN TATA CARA BERPAKAIAN
Mendahulukan yang kanan dalam berpakaian
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila memakai gamis dia mendahulukan yang kanan.” (HR. Tirmidzi)
Meninggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’
Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang menanggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’ kepada Allah padahal ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk dipakainya.” (HR. Tirmidzi)
Panjang gamis dan kain
Asma’ binti Yasid Al-Anshariyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “adalah lengan baju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya sampai pergelangan tangan. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Allah tidak akan melihat dengan rahmat pada hari kiamat kepada siapa saja yang memakai (menurunkan) kainnya kerena sombong.” (HR. Bukhari Muslim)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “yang di bawah mata kaki dari kain maka itu bagian api neraka.” (HR. Bukhari)
Pakaian yang disukai
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha ia berkata:”pakaian yang amat disukai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah gamis.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Doa mengenakan pakaian
Disunnahkan membaca bismillah ketika mengenakan pakaian, demikian pula sesuatu apapun yang baik.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: Apabila mengenakan pakaian baru Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut namanya, seperti gamis, sorban, atau selendang kemudian membaca doa:
(Ya Allah kepunyaan-Mu segala puji. Engkau pakaikan ini kepadaku, aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya dan kebaikan yang dijadikan karenanya, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang terjadi karenanya.) (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nas’i. Tirmidzi mengatakannya hadits hasan).
(Maraji’: Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, Nailul Author)
ADAB DAN TATA CARA BERPAKAIAN
Mendahulukan yang kanan dalam berpakaian
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila memakai gamis dia mendahulukan yang kanan.” (HR. Tirmidzi)
Meninggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’
Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang menanggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’ kepada Allah padahal ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk dipakainya.” (HR. Tirmidzi)
Panjang gamis dan kain
Asma’ binti Yasid Al-Anshariyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “adalah lengan baju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya sampai pergelangan tangan. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Allah tidak akan melihat dengan rahmat pada hari kiamat kepada siapa saja yang memakai (menurunkan) kainnya kerena sombong.” (HR. Bukhari Muslim)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “yang di bawah mata kaki dari kain maka itu bagian api neraka.” (HR. Bukhari)
Pakaian yang disukai
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha ia berkata:”pakaian yang amat disukai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah gamis.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Doa mengenakan pakaian
Disunnahkan membaca bismillah ketika mengenakan pakaian, demikian pula sesuatu apapun yang baik.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: Apabila mengenakan pakaian baru Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut namanya, seperti gamis, sorban, atau selendang kemudian membaca doa:
(Ya Allah kepunyaan-Mu segala puji. Engkau pakaikan ini kepadaku, aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya dan kebaikan yang dijadikan karenanya, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang terjadi karenanya.) (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nas’i. Tirmidzi mengatakannya hadits hasan).
(Maraji’: Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, Nailul Author)
Rokok
Kls 2
TEMBAKAU BERASAL DARI KENCING IBLIS
Rasulullah pernah bersabda : "Kelak akan datang kaum-kaum di akhir zaman, mereka suka mengonsumsi asap tembakau ini dan mereka berkata : 'Kami adalah umat Muhammad SAW', padahal mereka bukan umatku (Rasulullah tidak mengakui sebagai umatnya), dan aku juga tidak mengganggap mereka suatu umat, bahkan mereka adalah orang yang celaka."
Abu Hurairoh yang mendengar sabda tersebut bertanya : "Bagaimana sejarah tembakau itu tumbuh Ya Rasulullah?"
Sabdanya : "Sesungguhnya setelah Allah menciptakan Adam 'alaihis salam dan memerintahkan para malaikat untuk sujud (sebagai tanda penghormatan) kepada Adam, seluruh malaikat kemudian sujud kepadanya kecuali Iblis. Dia enggan, bersikap sombong dan termasuk orang-orang yang kafir.
Allah bertanya kepada Iblis : "Wahai Iblis, Apa yang menyebabkan kamu tidak mau sujud saat Aku memerintahkanmu? "
Kata Iblis : "Aku lebih baik darinya, aku tercipta dari api sedang ia tercipta dari tanah."
Allah berkata : "Keluarlah engkau dari surga sesungguhnya engkau terkutuk,
dan engkau dilaknat sampai hari akhir !"
Iblis keluar dengan ketakutan hingga terkencing-kencing. Dari tetesan kencing Ibllis itulah tembakau tumbuh.
Nabi SAW bersabda : "Allah memasukkan mereka kedalam neraka, dan sesungguhnya tembakau adalah tanaman yang keji"
SEJARAH ROKOK
Sejarah rokok sendiri tidak terlepas dari upaya konspirasi Yahudi-Nasrani yang berhasrat untuk menghancurkan umat Islam. "Tidak akan ridho kaum Yahudi dan Nasrani terhadap kalian selama-lamanya sampai kalian mengikuti jalan hidup mereka." (al-Baqarah : 120).
Didalam kitab Jawahirul Lu'lu'iyyah, disebutkan bahwa munculnya rokok berasal dari Inggris yang menyebar ke negeri-negeri Islam di abad akhir. Anehnya pemerintah Inggris justru tidak mengirimkan rokok ke negara Islam kecuali setelah para dokter muslim bersepakat melarang merokok.
Dikatakan pula bahwa para dokter negeri muslim pernah mengotopsi seorang laki-laki pecandu rokok. Mereka mendapati daging dan ototnya mengerut kehitaman, sumsum tulang hitam legam. Jantungnya seperti karang laut
berlubang dan berongga yang mengering. Hati terbakar seperti dipanggang api. Sejak itulah dokter Yahudi-Nasrani melarang mengonsumsi rokok. Sebaliknya mereka memerintahkan menjualnya ke kaum muslimin dengan tujuan
membinasakan muslimin dalam jangka panjang. Dari sinilah sebagian para ulama' mengharamkan mengkonsumsi rokok, karena ihtiyath (berhati-hati dalam mengambil hukum).
TEMBAKAU BERASAL DARI KENCING IBLIS
Rasulullah pernah bersabda : "Kelak akan datang kaum-kaum di akhir zaman, mereka suka mengonsumsi asap tembakau ini dan mereka berkata : 'Kami adalah umat Muhammad SAW', padahal mereka bukan umatku (Rasulullah tidak mengakui sebagai umatnya), dan aku juga tidak mengganggap mereka suatu umat, bahkan mereka adalah orang yang celaka."
Abu Hurairoh yang mendengar sabda tersebut bertanya : "Bagaimana sejarah tembakau itu tumbuh Ya Rasulullah?"
Sabdanya : "Sesungguhnya setelah Allah menciptakan Adam 'alaihis salam dan memerintahkan para malaikat untuk sujud (sebagai tanda penghormatan) kepada Adam, seluruh malaikat kemudian sujud kepadanya kecuali Iblis. Dia enggan, bersikap sombong dan termasuk orang-orang yang kafir.
Allah bertanya kepada Iblis : "Wahai Iblis, Apa yang menyebabkan kamu tidak mau sujud saat Aku memerintahkanmu? "
Kata Iblis : "Aku lebih baik darinya, aku tercipta dari api sedang ia tercipta dari tanah."
Allah berkata : "Keluarlah engkau dari surga sesungguhnya engkau terkutuk,
dan engkau dilaknat sampai hari akhir !"
Iblis keluar dengan ketakutan hingga terkencing-kencing. Dari tetesan kencing Ibllis itulah tembakau tumbuh.
Nabi SAW bersabda : "Allah memasukkan mereka kedalam neraka, dan sesungguhnya tembakau adalah tanaman yang keji"
SEJARAH ROKOK
Sejarah rokok sendiri tidak terlepas dari upaya konspirasi Yahudi-Nasrani yang berhasrat untuk menghancurkan umat Islam. "Tidak akan ridho kaum Yahudi dan Nasrani terhadap kalian selama-lamanya sampai kalian mengikuti jalan hidup mereka." (al-Baqarah : 120).
Didalam kitab Jawahirul Lu'lu'iyyah, disebutkan bahwa munculnya rokok berasal dari Inggris yang menyebar ke negeri-negeri Islam di abad akhir. Anehnya pemerintah Inggris justru tidak mengirimkan rokok ke negara Islam kecuali setelah para dokter muslim bersepakat melarang merokok.
Dikatakan pula bahwa para dokter negeri muslim pernah mengotopsi seorang laki-laki pecandu rokok. Mereka mendapati daging dan ototnya mengerut kehitaman, sumsum tulang hitam legam. Jantungnya seperti karang laut
berlubang dan berongga yang mengering. Hati terbakar seperti dipanggang api. Sejak itulah dokter Yahudi-Nasrani melarang mengonsumsi rokok. Sebaliknya mereka memerintahkan menjualnya ke kaum muslimin dengan tujuan
membinasakan muslimin dalam jangka panjang. Dari sinilah sebagian para ulama' mengharamkan mengkonsumsi rokok, karena ihtiyath (berhati-hati dalam mengambil hukum).
Pria dan wanita
Kls 1
Perbedaan laki-laki dan perempuan, ternyata sudah terjadi sejak saat-saat awal penciptaan manusia di dalam rahim. Penyebab utamanya adalah terbentuknya hormon yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dikendalikan oleh hormonandrogen. Sedangkan perempuan dipengaruhi oleh hormon estrogen.
Hormon-hormon inilah yang bertanggungjawab terhadap terbentuknya fisik lelaki dan perempuan. Lelaki lebih berotot, sedangkan perempuan lebih lemah lembut.
Lelakiberkumis dan bercambang, sedangkan perempuan tidak. Lelaki memiliki alat genital kelaki-lakian, sementara perempuan dengan genital kewanitaannya. Dan seterusnya.
Tapi, darimanakah munculnya hormon-hormon itu? Dan kenapa bisa berbeda antara hormon lelaki dan hormon perempuan? Ternyata, ini disebabkan oleh perintah dari dalam genetika cikal bakal bayi.
Rangkaian genetika adalah seperangkat ‘perintah’ yang terdapat di dalam inti sel-sel manusia. Pada setiap inti selnya, manusia menyimpan sekitar 5 miliar perintah. Seperti program komputer saja layaknya.
Pada saat pembentukan janin di dalam rahim, sperma sang ayah dengan ovum sang ibu menyumbangkan separo sifat-sifat mereka. Lantas, bergabung menjadi sebuah sel baru yang disebut sebagai Stem sel. Cikal bakal bayi.
Di dalam sel tunggal itulah perintah penciptaan mulai berjalan. Ada perintah untuk membentuk kepala, membentuk tangan, kaki, dan berbagai organ-organ tubuh manusia, secara sempurna. Maka sel tunggal itu pun membelah menjadi bertriliun-triliun sel hanya dalam waktu sekitar 9 bulan. Dan kemudian membentuk struktur dan fungsi yang sangat canggih.
Proses pembedaan antara lelaki dan perempuan dimulai hari ke-13 setelah sperma dansel telur bergabung menjadi Stem sel. Dan baru berhenti sekitar 10 hari sesudah kelahiran bayi.
Apakah yang terjadi saat itu? Ternyata ada jenis gen dalam sperma lelaki yang menyebabkan si bayi terbentuk menjadi bayi laki-laki atau bayi perempuan. Namanya Gen SRY alias Sexual Determining Region. Gen ini menghasilkan substansi yang disebut TDF, dan menyebabkan tumbuhnya alat kelamin lelaki atau alat kelaminperempuan.
Adalah sangat menarik, jenis kelamin bayi yang akan lahir itu ternyata ditentukanoleh sang ayah lewat kromosom Y yang terdapat pada spermanya.
Sedangkan sel teluribu bersifat pasif dalam hal ini. Kromosom ayah memiliki kode XY. Sedangkan kromosom ibu berkode XX.
Jika kromosom Y dari ayah bertemu dengan kromosom X dari ibu, maka janin tersebut akan berkembang menjadi bayi lelaki. Jika kromosom X dari ayah yang bertemu dengan X dari ibu, maka janin berkembang menjadi bayi perempuan. Ini persis seperti yang diceritakan oleh Al-Qur’an, bahwa penentu jenis kelamin lelaki dan perempuan adalah sperma ayah, bukan sel telur ibu.
QS. An Najm (53): 45-46
"dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan, dari sperma yang dipancarkan"
Ini sungguh luar biasa. Sejak belasan abad yang lalu Al-Qur’an telah menunjukkan
bahwa penentu jenis kelamin pada seorang bayi ternyata adalah sperma yang dipancarkan oleh sang ayah. Dan kini hal tersebut telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa antara laki-laki dan perempuan memang memiliki fungsi yang berbeda tapi saling melengkapi. Tidak bisa disamakan. Jika anda ingin memiliki bayi dengan jenis kelamin tertentu, maka yang harus direkayasa adalah sperma sang ayah.
Nah, sejak penentuan jenis kelamin itu terjadi, maka janin bakal menghasilkan hormon yang berbeda. Pada janin laki-laki, ia akan menghasilkan hormon androgen alias hormon lelaki. Sedangkan pada wanita akan menghasilkan hormon estrogen.
Sejak sekitar hari ke 13 itu janin laki-laki menghasilkan hormon-hormon lelaki yaitu testosteron dan MIS (Mullerian duct Inhibiting Substance). Kedua jenis hormon ini akan menyebabkan otak si janin bertumbuh menjadi otak laki-laki.
Testosteron berfungsi untuk membentuk alat kelamin lelaki dengan segala perlengkapannya, serta menekan terbentuknya kelenjar susu. Sedangkan MIS bertugas untuk mencegah terbentuknya alat kelamin wanita, termasuk rahim dan saluran telur. Dengan demikian, secara berangsur-angsur janin itu akan mengarah kepada bentuk lelaki dengan segala kekhasannya.
Sebaliknya, janin akan menjadi perempuan jika hormon yang bekerja adalah hormon-hormon estrogen. Secara bertahap si janin akan membentuk semua kelengkapan organ tubuh wanita.
Perkembangan tersebut - baik pada lelaki maupun wanita - terjadi selama pembentukan bayi di dalam rahim, sampai usia sekitar 10 hari setelah kelahiran. Jika, dalam kurun 10 hari itu terjadi pengaruh-pengaruh pada sistem organ seks mereka, atau fungsi otaknya, maka boleh jadi hal itu akan mengganggu perilaku
seksualnya di kemudian hari.
Sebagai contoh, jika hewan percobaan yang berkelamin jantan dikebiri sesaat setelah kelahirannya, maka di waktu-waktu selanjutnya hewan tersebut akan bertingkah laku sebagai betina. Demikian pula penyuntikan hormon estrogen pada si jantan, juga menyebabkannya bertingkah laku sebagai betina.
Pada manusia pun terjadi demikian. Jika ada seorang wanita disuntik dengan hormon laki-laki, maka ia akan menunjukkan sifat-sifat yang cenderung laki-laki dan lebih agresif dibanding sebelumnya. Demikian pula sebaliknya, jika seorang lelaki disuntik dengan hormon-hormon kewanitaan, maka ia akan menunjukkan gejala-gejala fisik dan bersikap sebagai perempuan.
Karena itu jangan heran, pada seorang waria, mereka mengandalkan suntikan hormon itu untuk membentuk fisik mereka agar menjadi lebih wanita. Sekaligus akan berpengaruh pada beberapa sifatnya. Namun, tentu saja, tidak bisa sempurna. Karena sudah ‘telanjur jadi’…
Jadi kesimpulannya....
Perbedaan adalah sebuah Karunia nyang ga' terhingga dimana ALLAH SWT menyempurnakan semua ciptaan-Nya untuk menjaga keseimbangan buat makhluk-Nya.... jadi ga' perlu ada nyang perlu diributin lageeeee...
Plus..klo dah jadi laki ato perempuan ya disukuri aja...gak usah nyeleh mo ngerubah nyang dah ada...
Perbedaan laki-laki dan perempuan, ternyata sudah terjadi sejak saat-saat awal penciptaan manusia di dalam rahim. Penyebab utamanya adalah terbentuknya hormon yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dikendalikan oleh hormonandrogen. Sedangkan perempuan dipengaruhi oleh hormon estrogen.
Hormon-hormon inilah yang bertanggungjawab terhadap terbentuknya fisik lelaki dan perempuan. Lelaki lebih berotot, sedangkan perempuan lebih lemah lembut.
Lelakiberkumis dan bercambang, sedangkan perempuan tidak. Lelaki memiliki alat genital kelaki-lakian, sementara perempuan dengan genital kewanitaannya. Dan seterusnya.
Tapi, darimanakah munculnya hormon-hormon itu? Dan kenapa bisa berbeda antara hormon lelaki dan hormon perempuan? Ternyata, ini disebabkan oleh perintah dari dalam genetika cikal bakal bayi.
Rangkaian genetika adalah seperangkat ‘perintah’ yang terdapat di dalam inti sel-sel manusia. Pada setiap inti selnya, manusia menyimpan sekitar 5 miliar perintah. Seperti program komputer saja layaknya.
Pada saat pembentukan janin di dalam rahim, sperma sang ayah dengan ovum sang ibu menyumbangkan separo sifat-sifat mereka. Lantas, bergabung menjadi sebuah sel baru yang disebut sebagai Stem sel. Cikal bakal bayi.
Di dalam sel tunggal itulah perintah penciptaan mulai berjalan. Ada perintah untuk membentuk kepala, membentuk tangan, kaki, dan berbagai organ-organ tubuh manusia, secara sempurna. Maka sel tunggal itu pun membelah menjadi bertriliun-triliun sel hanya dalam waktu sekitar 9 bulan. Dan kemudian membentuk struktur dan fungsi yang sangat canggih.
Proses pembedaan antara lelaki dan perempuan dimulai hari ke-13 setelah sperma dansel telur bergabung menjadi Stem sel. Dan baru berhenti sekitar 10 hari sesudah kelahiran bayi.
Apakah yang terjadi saat itu? Ternyata ada jenis gen dalam sperma lelaki yang menyebabkan si bayi terbentuk menjadi bayi laki-laki atau bayi perempuan. Namanya Gen SRY alias Sexual Determining Region. Gen ini menghasilkan substansi yang disebut TDF, dan menyebabkan tumbuhnya alat kelamin lelaki atau alat kelaminperempuan.
Adalah sangat menarik, jenis kelamin bayi yang akan lahir itu ternyata ditentukanoleh sang ayah lewat kromosom Y yang terdapat pada spermanya.
Sedangkan sel teluribu bersifat pasif dalam hal ini. Kromosom ayah memiliki kode XY. Sedangkan kromosom ibu berkode XX.
Jika kromosom Y dari ayah bertemu dengan kromosom X dari ibu, maka janin tersebut akan berkembang menjadi bayi lelaki. Jika kromosom X dari ayah yang bertemu dengan X dari ibu, maka janin berkembang menjadi bayi perempuan. Ini persis seperti yang diceritakan oleh Al-Qur’an, bahwa penentu jenis kelamin lelaki dan perempuan adalah sperma ayah, bukan sel telur ibu.
QS. An Najm (53): 45-46
"dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan, dari sperma yang dipancarkan"
Ini sungguh luar biasa. Sejak belasan abad yang lalu Al-Qur’an telah menunjukkan
bahwa penentu jenis kelamin pada seorang bayi ternyata adalah sperma yang dipancarkan oleh sang ayah. Dan kini hal tersebut telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa antara laki-laki dan perempuan memang memiliki fungsi yang berbeda tapi saling melengkapi. Tidak bisa disamakan. Jika anda ingin memiliki bayi dengan jenis kelamin tertentu, maka yang harus direkayasa adalah sperma sang ayah.
Nah, sejak penentuan jenis kelamin itu terjadi, maka janin bakal menghasilkan hormon yang berbeda. Pada janin laki-laki, ia akan menghasilkan hormon androgen alias hormon lelaki. Sedangkan pada wanita akan menghasilkan hormon estrogen.
Sejak sekitar hari ke 13 itu janin laki-laki menghasilkan hormon-hormon lelaki yaitu testosteron dan MIS (Mullerian duct Inhibiting Substance). Kedua jenis hormon ini akan menyebabkan otak si janin bertumbuh menjadi otak laki-laki.
Testosteron berfungsi untuk membentuk alat kelamin lelaki dengan segala perlengkapannya, serta menekan terbentuknya kelenjar susu. Sedangkan MIS bertugas untuk mencegah terbentuknya alat kelamin wanita, termasuk rahim dan saluran telur. Dengan demikian, secara berangsur-angsur janin itu akan mengarah kepada bentuk lelaki dengan segala kekhasannya.
Sebaliknya, janin akan menjadi perempuan jika hormon yang bekerja adalah hormon-hormon estrogen. Secara bertahap si janin akan membentuk semua kelengkapan organ tubuh wanita.
Perkembangan tersebut - baik pada lelaki maupun wanita - terjadi selama pembentukan bayi di dalam rahim, sampai usia sekitar 10 hari setelah kelahiran. Jika, dalam kurun 10 hari itu terjadi pengaruh-pengaruh pada sistem organ seks mereka, atau fungsi otaknya, maka boleh jadi hal itu akan mengganggu perilaku
seksualnya di kemudian hari.
Sebagai contoh, jika hewan percobaan yang berkelamin jantan dikebiri sesaat setelah kelahirannya, maka di waktu-waktu selanjutnya hewan tersebut akan bertingkah laku sebagai betina. Demikian pula penyuntikan hormon estrogen pada si jantan, juga menyebabkannya bertingkah laku sebagai betina.
Pada manusia pun terjadi demikian. Jika ada seorang wanita disuntik dengan hormon laki-laki, maka ia akan menunjukkan sifat-sifat yang cenderung laki-laki dan lebih agresif dibanding sebelumnya. Demikian pula sebaliknya, jika seorang lelaki disuntik dengan hormon-hormon kewanitaan, maka ia akan menunjukkan gejala-gejala fisik dan bersikap sebagai perempuan.
Karena itu jangan heran, pada seorang waria, mereka mengandalkan suntikan hormon itu untuk membentuk fisik mereka agar menjadi lebih wanita. Sekaligus akan berpengaruh pada beberapa sifatnya. Namun, tentu saja, tidak bisa sempurna. Karena sudah ‘telanjur jadi’…
Jadi kesimpulannya....
Perbedaan adalah sebuah Karunia nyang ga' terhingga dimana ALLAH SWT menyempurnakan semua ciptaan-Nya untuk menjaga keseimbangan buat makhluk-Nya.... jadi ga' perlu ada nyang perlu diributin lageeeee...
Plus..klo dah jadi laki ato perempuan ya disukuri aja...gak usah nyeleh mo ngerubah nyang dah ada...
Pribadi muslim
KLS-1
Al-Qur’an dan sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.
Kls 1
Persepsi (gambaran) masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).
4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2:219)
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.
Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)
6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adala
h memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.
Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan sunnah. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.
Al-Qur’an dan sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.
Kls 1
Persepsi (gambaran) masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).
4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2:219)
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.
Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)
6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adala
h memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.
Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan sunnah. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)
